Kumparan Logo

Gara-gara Pelemahan Rupiah, Kerugian PLN Bertambah di Kuartal III 2018

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung PLN (Foto: wikimapia.org)
zoom-in-whitePerbesar
Gedung PLN (Foto: wikimapia.org)

PT PLN (Persero) mencatatkan kerugian sebesar Rp 18,4 triliun pada kuartal III 2018. Kinerja keuangan PLN mengalami penurunan dibanding kuartal III 2017 yang berhasil meraup laba bersih Rp 3,06 triliun.

Dikutip dari laporan keuangan PLN untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2018 dan 2017, jumlah beban usaha PLN naik menjadi Rp 224 triliun dari Rp 200,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan beban usaha terutama dari biaya bahan bakar dan pelumas yang melonjak dari Rp 85,28 triliun di kuartal III 2017 menjadi Rp 101,87 triliun pada kuartal III tahun ini. Biaya pembelian tenaga listrik juga meningkat dari Rp 53,54 triliun menjadi Rp 60,61 triliun.

Pendapatan usaha PLN sebenarnya juga meningkat, namun tak mampu menutup kenaikan beban usaha. Pendapatan usaha PLN di Januari-September 2018 mencapai Rp 200,91 triliun, sementara di periode yang sama tahun lalu Rp 187,88 triliun. Dengan pendapatan usaha Rp 200,91 triliun dan beban usaha Rp 224 triliun, rugi usaha sebelum subsidi mencapai Rp 23,08 triliun.

Untuk menutup rugi usaha Rp 23,08 triliun, pemerintah sudah memberi subsidi Rp 39,77 triliun sehingga PLN mencetak laba usaha setelah subsidi Rp 16,69 triliun. Ditambah penghasilan keuangan Rp 585,9 miliar dan penghasilan lain-lain Rp 8,52 triliun, kemudian dikurangi beban keuangan Rp 16,18 triliun, PLN mendapat laba sebelum selisih kurs dan pajak Rp 9,61 triliun.

Namun, laba sebelum selisih kurs dan pajak tersebut tergerus oleh kerugian kurs mata uang asing sebesar Rp 17,32 triliun. Kerugian kurs ini timbul karena pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS.

Dampaknya, PLN mengalami rugi sebelum pajak sebesar Rp 7,7 triliun. Ditambah beban pajak sebesar Rp 10,7 triliun, rugi tahun berjalan (Januari-September 2018) PLN mencapai Rp 18,4 triliun.

"Biaya operasional terkait batu bara sudah termitigasi, tapi ada kerugian dari kurs dolar," kata Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka, kepada kumparan, Selasa (30/10).

Pekerja PT PLN (Persero) melakukan pemeliharaan saluran kabel udara (SKU) tegangan rendah pada sebuah gardu listrik. (Foto: ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja PT PLN (Persero) melakukan pemeliharaan saluran kabel udara (SKU) tegangan rendah pada sebuah gardu listrik. (Foto: ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)

Meski merugi di kuartal III 2018, Made optimistis keuangan PLN akan membaik dan untung dalam jangka panjang. Ia menjelaskan, PLN saat ini sedang banyak berinvestasi membangun pembangkit-pembangkit listrik baru. Beban PLN meningkat karena banyaknya investasi, sementara pembangkit yang sedang dibangun tentu belum menghasilkan pendapatan.

Keuangan PLN akan sehat setelah proyek-proyek pembangkit listrik itu selesai dan memberikan tambahan pendapatan untuk PLN.

"Sekarang waktunya kita belanja untuk bangun pembangkit. Ada beban bunga yang dibayar tiap bulan, itu membuat beban jadi lebih besar. Sementara pembangkit belum menghasilkan," paparnya.

Untuk menekan beban bunga, PLN sudah melakukan reprofilling, yakni menata ulang utang dengan mengambil utang baru yang berbunga rendah untuk melunasi utang lama yang bunganya tinggi.

"Reprofilling sudah kita lakukan untuk mengurangi beban bunga, misalnya dengan penerbitan Global Bond beberapa waktu lalu," tutupnya.