Garuda Indonesia Rugi Rp 35 T dan Punya Utang Rp 134 T Sepanjang 2020
·waktu baca 1 menit

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengalami kerugian mencapai USD 2,50 miliar sepanjang 2020 dalam laporan keuangan belum diaudit (unaudited). Nilai rugi bersih itu setara Rp 35 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per USD).
Berdasarkan paparan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, Senin (21/6), kinerja keuangan perseroan terjun bebas dibandingkan tahun buku 2019 yang masih meraup untung USD 6,99 juta.
Kerugian yang diderita perusahaan sepanjang tahun lalu disebabkan turunnya pendapatan mencapai 78 persen menjadi USD 1,01 miliar atau Rp 14 triliun menjadi USD 4,57 miliar atau Rp 64 triliun pada 2020 year on year (yoy).
EBITDA atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi perusahaan sesuai standar PSAK atau pedoman standar akuntansi keuangan 2020 tercatat negatif USD 683,4 juta. Sedangkan EBITDA tanpa PSAK negatif USD 1,47 miliar.
Sementara total kewajiban atau utang Garuda sepanjang 2020 mencapai USD 9,57 miliar atau Rp 134 triliun, ekuitas negatif mencapai USD 1,99 miliar atau minus Rp 27 triliun. Jumlah utang Garuda ini bertambah USD 6,1 miliar dalam setahun dibandingkan dengan utang pada 2019 USD 3,74 miliar. Saat itu, ekuitas juga masih positif USD 720 juta.
