Kumparan Logo

Garuda Indonesia Tunda Tambah 3 Pesawat, Fokus Sehatkan Keuangan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pesawat Garuda Indonesia. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pesawat Garuda Indonesia. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menunda penambahan 3 armada pesawat baru karena fokus menyehatkan kinerja keuangan. Chief of Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan Danantara memberikan suntikan modal sesuai kebutuhan Garuda Indonesia saat ini, yakni Rp 23,67 triliun, turun dari rencana sebelumnya sebesar Rp 30,72 triliun (USD 1,84 miliar).

Hal itu diputuskan dalam RUPSLB, Rabu (12/11). Tambahan modal melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), terdiri atas setoran tunai Rp 17,02 triliun dan konversi utang pemegang saham Rp 6,65 triliun.

"Jumlah ini tentu kita tidak melihat jumlah yang lain, tapi bagaimana sebuah proses komprehensif daripada turn around dan transformasi dari Indonesia, bahwa saat ini yang diperlukan sejumlah itu, sehingga kita melakukan penambahan modal sebesar Rp 23 triliun," jelasnya saat konferensi pers, Kamis (13/11).

Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria berjalan untuk bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/5/2025). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Adapun dari total penambahan modal Rp 23,67 triliun, sekitar Rp 8,7 triliun atau 37 persen dialokasikan untuk modal kerja Garuda Indonesia, termasuk perawatan pesawat.

Sementara Rp 14,9 triliun atau 63 persen digunakan untuk mendukung operasional Citilink, terdiri atas Rp 11,2 triliun untuk modal kerja dan Rp 3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019-2021.

Penyertaan modal tersebut dilakukan melalui penerbitan 315,61 miliar saham Seri D dengan harga pelaksanaan Rp 75 per lembar. Penerbitan saham ini juga memastikan Garuda Indonesia tetap tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, membenarkan bahwa perusahaan sempat meneken Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pemesanan 4 armada pesawat.

Namun, perusahaan baru membayar down payment (DP) untuk 1 pesawat, sementara pesanan 3 pesawat sisanya akan ditunda karena menunggu penyehatan keuangan.

"Jadi memang yang terakhir ada pesanan MoU empat pesawat, tapi yang baru dapet DP itu satu pesawat, yang tiga itu kita tunda dulu, kita postpone karena kita prioritaskan untuk perbaikan dulu, yang satu ini sudah terlanjur," ungkap Glenni.

instagram embed

Glenni menjelaskan, Danantara dan Garuda Indonesia tengah memprioritaskan sinergi penyehatan keuangan alias turn around, sebab dengan bertambahnya armada maka biaya operasional perusahaan otomatis naik.

"Alasannya prioritasnya perbaikan dulu, karena kalau kita tidak perbaiki, kita tetap bayar terus," tegasnya.

Dengan demikian, dia menyebutkan proses penyehatan ini setidaknya butuh waktu 2 tahun untuk membalikkan kondisi keuangan Garuda dari rugi menjadi untung kembali.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, mengatakan perusahaan tengah menghitung ulang segala rencana ekspansi bisnis, terutama dengan adanya jabatan baru Direktur Transformasi yang diduduki Neil Raymond Mills.

"Rencana kita untuk ekspansi itu sedang kita kaji ulang, karena memang dengan adanya Bapak Neil, kami menghitung ulang keperluan armada kita dan juga menyusun ulang network dan rute planning kami. Jadi bukan kita membatalkan, tapi sebagian kita akan tunda sampai analisa itu sudah difinalisasi," tuturnya.