Gas Jadi Jembatan Transisi Energi, RI Perlu Investasi Besar-besaran

20 September 2023 9:55
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto dalam pembukaan The 4th International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (ICIUOG) 2023, di Nusa Dua, Bali, Rabu (20/9/2023). Dok Ema Fitriyani/kumparan
ADVERTISEMENT
Indonesia tengah bergerak dari penggunaan energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) demi mengurangi ketergantungan impor BBM. Tapi di sisi lain, minyak masih menjadi tulang punggung kebutuhan energi dan penggerak ekonomi nasional.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini menjadi dilema bagi pemerintah. Melihat hal itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto menegaskan gas alam cair menjadi komoditas yang paling strategis menjadi jembatan dalam memasuki transisi energi. Meskipun gas masuk dalam energi fosil, tapi emisinya jauh lebih rendah dibandingkan minyak.
"Kita sangat yakin dan percaya sektor migas masih sangat relevan saat ini, khususnya gas yang strategis dalam transisi energi ini," kata Dwi dalam pembukaan The 4th International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (ICIUOG) 2023, di Nusa Dua, Bali, Rabu (20/9).
Karena gas menjadi jalan tengah dalam transisi energi, Dwi mengatakan investasinya harus digenjot besar-besaran dan berkelanjutan agar target produksi migas tahun 2030 yaitu 1 juta barel minyak per hari serta 12 ribu MMscfd gas bisa tercapai. Hal ini sesuai dengan tema The 4th ICIUOG, yaitu Advancing Energy Security through Sustainable Oil and Gas Exploration and Development.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam pembukaan The 4th International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (ICIUOG) 2023, di Nusa Dua, Bali, Rabu (20/9/2023). Dok Ema Fitriyani/kumparan
Pemerintah terus berupaya memperbaiki iklim investasi melalui berbagai perbaikan berbagai regulasi serta kebijakan. Hal itu juga berlaku di industri hulu migas. Perbaikan iklim investasi sangat krusial untuk mendorong peningkatan cadangan serta produksi migas.
ADVERTISEMENT
"Investasi besar-besaran diperlukan. rata-rata sekitar USD 20 miliar per tahun. Untuk target investasi 2023 USD 15,5 miliar tumbuh 28 persen lebih tinggi dari global 6,5 persen dan Long Term Plan (LTP)," terang Dwi.
Berbagai kegiatan diperlukan misalnya pemboran lebih dari 1.000 sumur per tahun setelah tahun 2025. Tahun ini diproyeksikan ada 827 sumur pemboran dibor ini jauh lebih banyak atau 344 persen lebih tinggi dari 2020 yang realisasi pemboran hanya 240 sumur.
Menurut Dwi ada empat komponen penting untuk bisa meningkatkan daya tarik investasi yakni sistem fiskal, masifnya kegiatan operasi produksi serta eksplorasi demi mendapatkan temuan cadangan migas besar (Giant Discovery), upaya penurunan risiko berusaha serta legal dan kontraktual.
ADVERTISEMENT
"Daya tarik naik investasi Indonesia sejak tahun 2020 naik didorong transformasi kebijakan dan fleksibilitas fiskal dan enabler lain . Untuk tarik investasi kita harus berkompetisi dengan negara lain maka banyak pekerjaan rumah terkait kontraktual dan lainnya," ungkap Dwi.
Industri hulu migas dipastikan akan memainkan peranan penting dalam masa transisi energi untuk memastikan ketahanan energi untuk mendukung perekonomian Indonesia. "Isunya sekarang bagaimana meningkatkan produksi serta menurunkan emisi karbon di waktu yang sama," kata Dwi.
Sementara itu, Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Marves), mengungkapkan bahwa pemerintah akan selalu terbuka menerima masukan dan saran dari para pelaku usaha untuk memperbaiki iklim investasi.
"Saya juga mendorong agar bisa bekerja lebih efektif dan efisien melalui digitalisasi proses bisnis untuk sehingga bisnis hulu migas lebih kompetitif," ungkap Luhut.
ADVERTISEMENT
Ke depan, menurut Luhut Indonesia bakal lebih membutuhkan energi gas apalagi dengan kondisi impor LPG yang sangat tinggi maka penggunaan gas untuk kebutuhan domestik harus ditingkatkan. Ini bisa ditempuh dengan meningkatkan kemampuan industri hilir migas. Misalnya beberapa produk petrokimia seperti ammonia, blue ammonia, green ammonia, methanol termasuk blue dan green methanol.
Untuk bisa mengimplementasikan itu, maka industri hulu migas juga harus siap menambah investasi untuk menerapkan Carbon Capture and Storage (CCS). "Untuk membangun CCS Hub diperlukan komitmen bersama diantara industri, pemerintah, dan swasta mendorong agenda CCS di Indonesia," tegas Luhut.