Kumparan Logo

Gas Rusia Seret, Perusahaan Energi Uniper di Jerman Rugi Rp 94,5 T

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tangki minyak di dekat kota Usinsk, 1500 kilometer (930 mil) timur laut Moskow, Russia. Foto: Dmitry Lovetsky/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Tangki minyak di dekat kota Usinsk, 1500 kilometer (930 mil) timur laut Moskow, Russia. Foto: Dmitry Lovetsky/AP Photo

Seretnya pasokan gas dari Rusia ke sejumlah negara di Eropa mulai memakan korban. Salah satunya Uniper, perusahaan energi raksasa di Jerman.

Uniper harus menanggung kerugian 6,2 miliar euro atau setara USD 6,3 miliar. Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 15.000 per dolar AS, kerugian yang ditanggung Rp 94,50 triliun lantaran Uniper harus membeli gas dari tempat lain dengan harga leih mahal.

"Perkiraan kerugian Uniper mengacu pada periode waktu mulai 14 Juni, hari di mana Rusia memotong aliran pipa Nord Stream 1 sebesar 60 persen, hingga 30 September 2022," demikian laporan Reuters berdasarkan slide paparan perusahaan dikutip Minggu (24/7).

Jerman menuduh Rusia sengaja mengurangi aliran gas ke Eropa dengan dalih palsu sebagai pembalasan atas sanksi Barat setelah invasi ke Ukraina. Tuduhan ini langsung dibantah pemerintah Putin dan Gazprom, perusahaan yang mengalirkan gas ke Eropa, siap untuk memenuhi semua kewajiban kontrak pembelian.

Uniper Bakal Ambil Tindakan Hukum ke Gazprom

Pada Jumat pekan lalu Uniper mengisyaratkan akan mengambil tindakan hukum terhadap Gazprom (GAZP.MM) setelah perusahaan Rusia secara surut mengklaim keadaan kahar (force majeure) untuk kekurangan pengiriman beberapa bulan terakhir dan saat ini.

"Sampai saat ini, kami telah menderita kerugian miliaran dan tidak ada akhir yang pasti. Gazprom sendiri belum menunjukkan kesediaan untuk membayar bahkan sebagian dari kerusakan tersebut," kata Kepala Eksekutif Uniper Klaus-Dieter Maubach kepada wartawan.

Pipa di fasilitas pendaratan pipa gas 'Nord Stream 1' digambarkan di Lubmin, Jerman, 8 Maret 2022. Foto: Hannibal Hanschke/REUTERS

Alih-alih dapat mengandalkan kesepakatan harga jangka panjang dengan Gazprom, Uniper justru harus membeli gas mahal di pasar spot untuk menutupi kekurangan pasokan.

Rauramo dari Fortum mengatakan terlalu dini untuk memperkirakan berapa total kerugian Uniper, sebab tergantung pada harga dan kuantitas gas Rusia ke Eropa.

Fortum dan pemerintah Jerman telah sepakat bahwa Jerman akan menanggung 90 persen dari kenaikan harga yang berarti Fortum harus menanggung sisanya. Jerman mengatakan kerugian Uniper setara dengan kasus ambruknya Lehman Brothers di AS yang saat itu memicu krisis global 2008.