Kumparan Logo

Geliat Produsen Sepeda Lokal saat Penurunan Tren, Tak Goyah Berkat Pembeli Loyal

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga mengisi hari libur dengan olahraga bersepeda di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat. Foto: Suwandy/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga mengisi hari libur dengan olahraga bersepeda di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat. Foto: Suwandy/ANTARA FOTO

Popularitas sepeda yang sempat meroket kini mulai memudar. Sebabnya, orang-orang yang awalnya ikut tren gowes sejak COVID-19 merebak, perlahan-lahan mulai menepi dari dunia persepedaan.

Goyahnya tren bersepeda ini membuat harga yang semula melambung, kini mulai normal bahkan cenderung jatuh. Begitu pula dengan stok yang sempat selalu kosong, berangsur menjadi biasa saja dan bahkan over supply.

Agaknya, kondisi ini tak banyak berdampak pada penjualan sepeda lokal. Setidaknya begitulah pengakuan salah satu produsen sepeda lokal merk Kreuz yang berproduksi di Bandung.

Alih-alih penjualan atau harga menurun, Founder Kreuz Yudi Yudiantara mengungkapkan sepeda bikinan mereka justru kian laris manis saat ini. Ini ditunjukkan dari jumlah produksi tiap bulannya yang sudah mencapai 100 sampai 125 unit per bulan.

"Kemarin banyak karena produksi kita kecil. Sekarang 125-an per bulan sejak Oktober, sampai sekarang kita sudah distribusi 700 sepeda dari setahun kemarin," ujar Yudi kepada kumparan, Minggu (20/6).

Sedikit melihat ke belakang, usaha yang mulai dibangun bersama beberapa kolega pada Maret 2020 itu awalnya hanya memproduksi 5 sampai 15 sepeda per bulan lantaran kapasitas mesin painting yang kecil. Tak dinyana, kini sudah tumbuh berpuluh kali lipat dalam waktu kurang dari dua tahun.

Yudi pun mengakui bahwa ada kecenderungan penurunan pengguna sepeda. Tetapi itu tak berdampak banyak lantaran mereka punya pembeli loyal sendiri.

Di samping puas lantaran bisa memesan warna, desain dan part sesuai keinginan, kebanggaan menggunakan produk lokal turut melambungkan brand mereka.

Alhasil, Kreuz bahkan selalu kewalahan memenuhi permintaan yang datang dari obrolan pembeli ke rekanan atau koleganya, yang berujung pemesanan baru. Ia menyebut ini dengan istilah promosi gratis karena kepercayaan dan loyalnya pembeli.

Pesepeda memacu kecepatan saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (30/5/2021). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Persaingan dengan brand-brand impor yang membanjiri pasaran pun, tak menjadi suatu kondisi yang mengkhawatirkan lagi. Yudi percaya dengan kualitas dan menghindari mark-up saat tren melonjak, jadi nilai jual tersendiri.

"Kita kan harga bukan kita naikin karena spekulan, kita bukan. Material kita ada di lokal kita buat jadi harga enggak ngaruh, yang spekulan yang ngaruh sekarang repot. (Impor) enggak pengaruh karena kita nilai plus custom warna, custom part. Kualitas mendekati Brompton, lebih bagus dibanding China," tuturnya.

Dia pun tak ambil pusing dengan kaburnya pelanggan. Semua dikembalikan dengan pilihan masing-masing, bila mau menang merek silakan pilih Brompton, begitu pula dengan keinginan mendapat harga murah ada banyak produk China di pasaran.

"Pengin kualitas bagus dan harga menengah ya sama kita, jadi konsumen udah terpilah-pilah, yang ngejar harga murah silakan," pungkasnya.

Kreuz sendiri membanderol harga awal untuk frame set sekitar Rp 4 sampai 5 juta. Sementara untuk desain lengkap, diserahkan sesuai selera pelanggan.

Ia mengungkapkan rata-rata pelanggan biasanya akan menghabiskan uang Rp 15 sampai Rp 20 juta buat mengolah frame set awal tersebut.

"Jujur kita belum tingkatkan strategi marketing dan justru menahan produksi. Tiap hari ada yang mesan terus, mereka merekomendasikan produk kita bagus dari konsumen yang udah pernah memesan," ujar Yudi.

"Jadi sekarang orang-orang juga ada kebanggaan memakai produk lokal. Yang terjun itu ya cuma spekulan karena harga kembali normal," sambungnya.