Generasi Milenial Punya Mimpi Pensiun Dini, Apakah Siap?

30 November 2022 17:47
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi milenial kesulitan mengatur keuangan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi milenial kesulitan mengatur keuangan. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Generasi milenial sering kali dianggap sebagai masyarakat sosial yang melek dan adaptif terhadap teknologi. Tanpa disadari perkembangan teknologi perlahan mulai mempengaruhi pola dan gaya hidup manusia, sehingga menimbulkan sebuah perubahan.
ADVERTISEMENT
Adapun sikap masyarakat yang awalnya sangat kaku berubah menjadi lebih memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya dan perlahan mulai menerima adanya perubahan teknologi. Seseorang yang terbiasa berproses untuk mendapatkan sesuatu, perlahan kebiasaannya mulai terkikis dengan adanya pencapaian secara instan dan cepat akibat munculnya internet dan teknologi terbaru.
Meski begitu, perubahan gaya hidup instan tidak sepenuhnya disebabkan oleh teknologi. Perubahan juga disebabkan oleh perbaikan ekonomi, politik dan sosial yang turut merubah pola dan gaya hidup manusia.
Melalui perubahan gaya hidup inilah, memunculkan pola pikir dan generasi baru. Adanya pola pikir dan generasi baru mampu menyeimbangkan gaya hidup. Mereka akan cenderung memilih pekerjaan yang menguntungkan dan menunjang gaya hidup mereka.
Tidak hanya itu, generasi milenial juga tertarik dengan financial independence retire early (FIRE) atau kemandirian finansial yang juga bisa diartikan pensiun dini. Perencana Keuangan Aliyah Natasya mengungkapkan bahwa gerakan ini menjadi topik hangat yang dibicarakan di mana generasi milenial menginginkan fleksibilitas dan kebebasan dalam memilih.
ADVERTISEMENT
"Kita tidak mau kerja 9 to 5 membuild career sampai akhirnya bisa retire di usia 55 atau 60 tahun seperti generasi baby boomers," ujar Aliyah dalam acara PermataBank Wealth Wisdom 2022 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Rabu (30/11).
Untuk menjadi bagian dari itu, kata dia, generasi milenial harus mandiri secara keuangan. Di sisi lain, energi untuk tetap bekerja, berkarya dan berkontribusi dalam pekerjaan itu banyak sekali. Namun, mereka tidak mau berada di budaya kerja yang toxic maupun overworked.
"Kita bisa lihat movement pekerjanya berbeda. Mau pensiun dini atau nanti, kita harus melihat pensiun reality check, kita harus melihat skenario terburuk, karena tidak tahu kapan terjadi," ungkapnya.
Pada masa modern ini, cita-cita untuk pensiun dini berada pada usia 40 hingga 40 tahun. Kendati demikian, perbaikan pendidikan, kesehatan dan kualitas hidup menjadikan manusia semakin panjang umur.
ADVERTISEMENT
Ia mencontohkan dirinya bersama dengan Head of Bancassurance Astra Life, Heckel yang lahir pada 1987 di mana secara global life expectancy-nya ada di umur 97 tahun.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Kita tahu adanya perbaikan pertumbuhan ekonomi di Indonesia our quality of life juga meningkat," jelas dia.
Sementara itu, untuk para orang tua atau kakek dan nenek yang memiliki cucu lahir pada 2007, life expectancy-nya sampai di usia 103 tahun. Apabila ingin memutuskan pensiun dini, lalu Aliyah mempertanyakan siapa yang akan menghidupi para cucu.
"If you wanna retire early 40-50 tahun, siapa yang akan menghidupi mereka untuk memiliki usia sepanjang ini?," tanya Aliyah.
Ia tidak bisa memungkiri bahwa kekhawatiran keuangan adalah tantangan yang dihadapi setiap hari. Masyarakat global juga sangat menyadari isu ini dan menempatkan isu pensiun pada posisi kedua terkait kekhawatiran keuangan.
ADVERTISEMENT
"Bagaimana caranya aku bisa menabung dana pensiun apabila saya khawatir tentang kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Periode Emas Milenial

Ilustrasi pekerja milenial. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja milenial. Foto: Shutterstock
Aliyah menambahkan, umur 40 hingga 45 tahun merupakan periode emas. Ketika berada di periode ini, angka harapan hidup masyarakat Indonesia untuk perempuan berada di angka 73 tahun dan laki-laki 69 tahun.
Melihat hal ini, ia kembali mengajak generasi milenial untuk memikirkan kembali dari mana pendapatan yang akan didapatkan saat memutuskan melakukan pensiun dini. Padahal para perempuan harus menghadapi masa career break di mana mereka tidak memiliki pendapatan akibat melahirkan ataupun memilih mengejar impian.
"Makanya saat berbicara mengenai pensiun dini ini sangat mengkhawatirkan," kata Aliyah.
Ketika menua nantinya biaya hidup akan menjadi lebih kecil, karena biasanya biaya hidup naik ketika mulai berkeluarga dan memiliki usia yang sangat produktif. Usia 30 tahun, 40 tahun dan 45 tahun seharusnya menjadi career acceleration moment, karena biaya hidupnya di bawah pendapatan dan bisa untuk menabung.
ADVERTISEMENT
"Kalau kita melewati usia 55-65 biaya kesehatan kita mencakup 50 persen dari biaya hidup, penyakit darah tinggi, diabetes, jantung dan katarak. Itu biasa mendominasi usia pensiunan, kalau kita mau pensiun dini siapa yang mau bayarin biaya kesehatan kita?," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020