Geopolitik Memanas, Gaikindo Soroti Kenaikan Biaya Produksi Industri Otomotif
·waktu baca 3 menit

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyoroti dampak perang AS-Israel dengan Iran terhadap industri otomotif.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan perang di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok global, termasuk distribusi bahan baku industri otomotif hingga biaya logistik.
“Dengan situasi yang sudah cukup volatile saat ini, harga bahan baku naik karena adanya perang. Saat ini memang itu ditengarai sebagai potensi masalah. Kemudian logistiknya juga akan lebih lama dan sebagainya,” kata Kukuh dalam diskusi Forum Wartawan Industri mengenai Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Menggenjot Adopsi EV di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (22/4).
Dia juga menyoroti tertekannya nilai tukar rupiah akibat gejolak geopolitik. Meski demikian, Kukuh menilai kondisi seperti ini bukan hal baru bagi industri otomotif nasional. Ia mencontohkan krisis 1998 hingga pandemi COVID-19 pada 2020 yang sempat menekan industri, namun pada akhirnya mampu dilalui dan pulih.
Ia berharap industri otomotif Indonesia tetap mampu bertahan di tengah tekanan geopolitik saat ini. Terlebih, berbagai upaya efisiensi seperti pengembangan teknologi kendaraan hemat energi hingga pemanfaatan bahan bakar alternatif seperti B50 dinilai bisa menjadi salah satu strategi untuk meredam dampak kenaikan biaya.
“Kita sedang berupaya untuk menjadi B50. Ini adalah target yang paling dekat dan mudah-mudahan ini juga menjadi alternatif tersendiri, karena mungkin B50 ini yang pertama kali di dunia, dengan hasil yang bagus, ini menjadi salah satu trademark tersendiri buat Indonesia,” tutupnya.
Penjualan EV Diyakini Masih Tinggi
Kukuh juga berharap EV bisa menjadi mesin pertumbuhan baru sektor otomotif nasional dengan penjualan yang diyakini akan meledak setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik.
“Karena kenyataannya masyarakat tuh begini, oh ini harga bahan bakar akan meningkat nih, sebaiknya saya milih ke elektric vehicle. Ini momen yang sangat positif. Nah, ini yang harus dijaga,” kata Kukuh.
Kondisi ini seiring dengan tingginya penjualan segmen ini sejak tahun lalu dan ditaksir berlanjut pada 2026. Pendorongnya salah satunya adalah perubahan preferensi konsumen yang kini memburu kendaraan hemat energi sekaligus ramah lingkungan.
Terlebih selisih harga antara harga EV dan mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Selain itu, jarak tempuh EV makin bertumbuh dan kini bisa mencapai 600 kilometer (km) saat baterai terisi penuh. Dengan demikian bisa mengurangi kecemasan jarak (range anxiety) yang biasanya dialami pengguna EV.
Berdasarkan Gaikindo porsi ICE merosot dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025. Sementara porsi battery electric vehicle (BEV) naik dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen pada akhir 2025 dan naik lagi menjadi 15,6 persen, sedangkan ICE turun menjadi 75 persen.
Pada periode yang sama, penjualan BEV melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari 16.926 unit. Sementara penjualan mobil ICE justru merosot dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit.
Salah satu pemain EV yang eksis di Indonesia, BYD juga merasakan peningkatan penjualan. Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan penjualan BYD naik 65 persen per Maret 2026 dengan pangsa pasar 41 persen, tertinggi di Indonesia.
Luther melihat hal ini salah satunya didorong oleh komitmen BYD yang menyediakan produk yang sesuai selera pasar, baik secara fungsi maupun harga, seperti Atto 1 dan M6.
“Ke depan BYD akan terus memboyong teknologi terbaru di EV ke Indonesia, termasuk platform-platform terbaru,” kata dia.
