Geser Dolar AS, Transaksi Dagang RI-China Pakai Rupiah dan Yuan Mulai Juli 2021

25 Juni 2021 16:28
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (2/1/2021). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (2/1/2021). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Bank Indonesia (BI) memastikan penggunaan mata uang rupiah dan yuan dalam transaksi perdagangan, atau kerja sama local currency settlement (LCS) bisa diterapkan mulai Juli 2021.
ADVERTISEMENT
LCS merupakan kerja sama Indonesia dengan beberapa bank sentral negara lain untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung. Tujuannya, untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Transaksi LCS sendiri meliputi penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung, serta perdagangan antarbank untuk mata uang negara tersebut dan rupiah. Kerja sama juga mencakup sharing informasi dan diskusi secara berkala antarotoritas
“Dengan China, kita sedang siapkan regulatory-nya. Juli atau kuartal III launching dan diterapkan,” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat saat diskusi virtual Blueprint Pengembangan Pasar Uang 2025, Jumat (25/6).
Donny menjelaskan, saat ini minat para pelaku usaha maupun perbankan di Indonesia juga tinggi untuk menerapkan LCS tersebut. Begitu juga dengan pelaku usaha di China.
ADVERTISEMENT
“Minat indikasi kalau kita diskusi dengan pelaku dan perbankan minatnya tinggi. Nanti dengan China saya rasa juga paling cepat penggunaan LCS,” jelasnya.
Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia Noviansyah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia Noviansyah
Menurut dia, untuk menerapkan LCS dengan mata uang negara lain, selain dolar AS, memerlukan sosialisasi. Sebab tak bisa dipungkiri, selama ini transaksi dolar AS memang masih mendominasi.
“Karena ini perlu sosialisasi dan internalisasi, dan orang masih senang dengan dolar, makanya perlu kebijakan yang membuat mereka beralih. Ada insentif yang juga dibuat dan bagaimana diimplementasikan masing-masing negara, dari sisi pelaku usaha masih melakukan itu,” tambahnya.
Saat ini, Indonesia juga sudah menjalin kerja sama penggunaan mata uang lokal dengan Malaysia, Thailand, dan Jepang. Bank Sentral mengatakan, saat ini kedua belah pihak juga terus menjalin komunikasi dengan para eksportir dan importir di mitra negara tersebut.
ADVERTISEMENT