Gibran Minta Gojek Turunkan Ongkir, Driver Ojol: Hitung Dulu Biaya Angkutan
ยทwaktu baca 3 menit

Permintaan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka agar Gojek menurunkan ongkos kirim (ongkir) mendapat tanggapan dari driver ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda).
Ketua Presidium Garda, Igun Wicaksono, menilai tarif ongkir yang diberlakukan saat ini tergolong rendah. Kalau diturunkan lagi, tentu merugikan para driver ojol. Kata Igun, yang harus dipikirkan bukan hanya UMKM saja, tapi juga kesejahteraan para driver ojol.
"Jangan memandang untuk memajukan UMKM saja tapi ojek online dibuat tarifnya tidak memenuhi dasar kemanusiaan. Dalam hal ini, siapa pun yang membuat pernyataan itu seharusnya belajar kembali mengenai biaya modal dan biaya operasional angkutan," kata Igun saat dihubungi kumparan, Rabu (29/12).
Ia menegaskan, tarif ongkir harus memperhitungkan biaya modal dan biaya operasional yang dikeluarkan driver ojol. Harus diperhitungkan dengan cermat. Jangan sampai merugikan ojol.
"Jadi yang punya pandangan bahwa tarif ojek itu harus diturunkan, itu salah besar. Orang yang punya pandangan tersebut tidak memiliki data mengenai operational expense (biaya operasional) dan capital expenditure (biaya modal) terhadap operasional dari ojek online. Sebaiknya tidak asal membuat statement mengenai tarif ojek online," ujarnya.
Tarif saat ini saja, menurut Igun, masih belum ideal karena merupakan hasil perhitungan pada 2019. Harusnya dievaluasi setiap 6 bulan sekali.
"Tarif saat ini masih jauh dari ideal karena tingkat inflasi juga mempengaruhi tarif. Tarif yang ideal itu harus di atas yang berlaku saat ini," paparnya.
Pendapatan driver ojol tergerus karena inflasi setiap tahun. Igun menyatakan, harusnya tarif ojol dinaikkan.
"Saat ini kan ada 3 zona tarif. Dari 3 zona tarif tersebut, tarif yang berlaku saat ini sudah expired. Harusnya dievaluasi kembali oleh pemerintah. Dari 2019, mau 3 tahun. Seharusnya evaluasi tiap 6 bulan. Harusnya tarif tersebut naik dari yang berlaku saat ini," pungkasnya.
Tarif GoFood Sudah Diturunkan
Penurunan tarif GoFood pada November lalu sempat dipersoalkan. Manajemen Gojek angkat bicara soal kebijakan penurunan tarif order di GoFood yang disebut berdampak pada merosotnya penghasilan para mitra ojek online (ojol).
Vice President Corporate Affairs Food & Groceries Gojek, Rosel Lavina, mengungkapkan justru yang terjadi adalah sebaliknya. Dia mengeklaim kebijakan teranyar lini bisnis di bawah Gojek itu justru bakal mengerek pendapatan ojol.
"Justru dengan kebijakan tarif jarak dekat ini, memungkinkan driver memperoleh orderan lebih meningkat," jelas Rosel kepada kumparan, Senin (15/11).
Peningkatan jumlah order itu, lanjutnya, sangat memungkinkan terjadi karena jarak order lebih dengan akan semakin banyak dengan penurunan tarif. Di samping itu, perusahaan juga menjamin adanya skema apresiasi tambahan alias bonus buat para mitra.
"Kami juga berfokus pada komitmen kami terhadap peluang pendapatan mitra driver. Hal ini kami wujudkan dengan menyediakan skema apresiasi tambahan kepada mitra driver yang besarannya disesuaikan di masing-masing daerah," sambungnya.
Kebijakan terbaru di layanan GoFood yakni turunnya tarif dari Rp 9.600 menjadi Rp 8.000. Tarif ini dihitung berdasarkan jarak per kilometer Rp 1.850 sampai Rp 2.000.
Berdasarkan penjelasan Rosel, dengan kebijakan terbaru ini, tarif yang berlaku sekarang menjadi 2 skema. Pertama ongkos kirim dengan jarak hingga 2 km, dan ongkir untuk jarak di atas 2 km yang tidak mengalami perubahan.
Kebijakan ini sebelumnya dinilai bakalan merugikan para driver ojol. Terlebih lagi, menurut Peneliti dari Institute of Governance and Public Affairs UGM, Arif Novianto, tarif ojol di Indonesia adalah salah satu yang terendah di dunia.
"Di beberapa daerah, pendapatan minimum ojol dalam layanan GoFood mengalami penurunan. Di Jogja, dari awalnya Rp 1.800/km (Rp 7.200/0-4 km), turun menjadi Rp 1.600/km (Rp 6.400/0-4 km)," ungkap Arif.
