Kumparan Logo

Gibran Tegur Gojek Karena Tarif Ongkir Kemahalan, Ini Kata Asosiasi Driver Ojol

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bakal calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka usai terima rekomendasi di DPD Partai Gerindra Jateng. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bakal calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka usai terima rekomendasi di DPD Partai Gerindra Jateng. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabubing mengaku telah menegur Gojek belum lama ini. Dirinya meminta Gojek menurunkan ongkos kirim (ongkir) agar UMKM terbantu, terutama yang bergerak di bidang usaha makanan dan minuman.

“Kemarin saya tegur itu Gojek, delivery fee-nya jangan kemahalan. Kalau kemahalan lama-lama mematikan UMKM kita terutama yang F&B (food and beverege). Kemarin saya tekan seperti itu,” ujar Gibran dalam Seminar Nasional bertajuk Tantangan Milenial Merebut Peluang Akses Pembiayaan dalam Ekosistem UMKM dan Ekonomi Hijau yang disiarkan virtual, Selasa (28/12).

Putra orang nomor satu di Indonesia itu juga mengatakan ,Pemerintah Kota Solo tak takut ditinggal Gojek karena pihaknya bisa membuat aplikasi serupa di Kota Solo. Namun, Gibran juga tak menutup kemungkinan menjalin kerja sama antara Gojek dengan Pemerintah Kota Solo dengan tujuan membangun UMKM.

Permintaan Wali Kota Surakarta Gibran untuk menurunkan ongkir gojek mendapat tanggapan dari driver ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda).

Ketua Presidium Garda, Igun Wicaksono mengatakan apabila tarif ongkir ini diturunkan akan merugikan driver ojol. Tarif ongkir yang diberlakukan saat ini menurutnya sudah murah. Igun juga menegaskan Wali Kota jangan hanya memikirkan nasib UMKM saja.

“Jangan memandang untuk memajukan UMKM saja tapi ojek online dibuat tarifnya tidak memenuhi dasar kemanusiaan. Dalam hal ini, siapa pun yang membuat pernyataan itu seharusnya belajar kembali mengenai biaya modal dan biaya operasional angkutan,” kata Igun kepada kumparan, Rabu (29/12).

Bahkan, untuk tarif ojol saat ini saja menurut Igun itu tidak ideal. Karena tarif tersebut berdasarkan perhitungan pada tahun 2019, yang mana Igun mengatakan seharusnya ada evaluasi penetapan tarif setiap enam bulan sekali.

Justru menurut Igun pendapatan driver ojol setiap tahun tergerus karena inflasi. Oleh karena itu, Igun menyatakan seharusnya tarif ojol dinaikkan, bukan malah diturunkan seperti apa yang diminta Wali Kota Gibran.

“Jadi yang punya pandangan bahwa tarif ojek itu harus diturunkan, itu salah besar. Orang yang punya pandangan tersebut tidak memiliki data mengenai operational expense (biaya operasional) dan capital expenditure (biaya modal) terhadap organisasi dari ojek online. Sebaiknya tidak asal membuat statement mengenai tarif ojek online,” kata Igun.