Kumparan Logo

GMFI Tambah Modal lewat Inbreng Lahan Angkasa Pura Senilai Rp 5,6 T

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja Garuda Maintenance Facility (GMF) melakukan pengecekan mesin di Pesawat Garuda Indonesia yang akan digunakan untuk armada haji 1443 H/2022 di Hanggar GMF Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (2/6/2022).  Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja Garuda Maintenance Facility (GMF) melakukan pengecekan mesin di Pesawat Garuda Indonesia yang akan digunakan untuk armada haji 1443 H/2022 di Hanggar GMF Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (2/6/2022). Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA FOTO

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, resmi mengumumkan rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) II yang melibatkan penyertaan modal non-tunai (inbreng) dari PT Angkasa Pura Indonesia (API).

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu malam (22/10), API bakal menyetorkan aset berupa lahan seluas sekitar 972.123 meter persegi yang berlokasi di area Garuda Maintenance Facility, Kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aset tersebut memiliki nilai setara Rp 5,66 triliun, yang akan dicatat sebagai tambahan modal GMFI.

Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi grup Garuda Indonesia (GIAA) untuk memperbaiki struktur ekuitas dan meningkatkan profitabilitas secara konsolidasi.

"Aksi korporasi inbreng lahan API kepada Perseroan bertujuan untuk memperbaiki ekuitas dan profitabilitas Perseroan dan GIAA secara konsolidasi," tulis manajemen GMFI.

Selama ini GMFI menempati lahan milik API dengan status sewa. Pembayaran sewa tersebut menekan profitabilitas perusahaan. Dengan penyertaan aset menjadi modal, GMFI tak lagi menanggung biaya sewa dan mendapatkan tambahan aset yang memperkuat posisi keuangan.

Perseroan juga menjelaskan tak terdapat sengketa atau jaminan atas aset API yang akan disetorkan. Namun, realisasi inbreng masih menunggu penyelesaian proses administrasi pertanahan, yakni perubahan status lahan dari Hak Pengelolaan Lahan (HPL) menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama API sebelum dialihkan ke GMFI.

Pekerja Garuda Maintenance Facility (GMF) melakukan pengecekan mesin di Pesawat Garuda Indonesia yang akan digunakan untuk armada haji 1443 H/2022 di Hanggar GMF Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (2/6/2022). Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA FOTO

"Apabila pelaksanaan Rencana Inbreng tersebut tidak dapat terealisasi sesuai rencana, Perseroan akan menjajaki alternatif aksi korporasi lain yang memiliki tujuan serupa," lanjutnya.

Manajemen juga mengantisipasi sejumlah risiko dari aksi korporasi ini, termasuk risiko legalitas lahan, risiko pajak, dan risiko dilusi saham publik akibat penerbitan saham baru.

Meski demikian, karena lahan dan fasilitas hangar yang di-inbreng termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), GMFI berpotensi memperoleh fasilitas pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dengan tarif 0 persen.

Setelah transaksi ini, API akan menjadi pemegang saham terbesar di GMFI, sedangkan kepemilikan GIAA akan terdilusi. Kendati demikian, takkan terjadi perubahan pengendalian atas GMFI karena Garuda Indonesia masih akan mengkonsolidasikan laporan keuangannya.

"Rencana Transaksi akan memberikan dampak positif terhadap kondisi keuangan Perseroan, antara lain optimalisasi pengelolaan aset, perbaikan ekuitas, serta pengembangan bisnis Perseroan," tulis GMFI.

instagram embed