Grup Salim dan Galael Suntik Rp 80 Miliar ke KFC yang Terus Merugi
·waktu baca 3 menit

PT Fast Food Indonesia Tbk., pemegang lisensi waralaba restoran cepat saji KFC di Indonesia, meminta tambahan modal Melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) dari dua pemegang saham utamanya, yakni keluarga Gelael dan Grup Salim, Kamis (15/5).
Aksi private placement ini bertujuan untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan. Emiten dengan kode FAST akan menerbitkan hingga 533.333.334 saham baru pada harga pelaksanaan Rp 150 per saham.
Total dana segar yang ditargetkan mencapai Rp 80.000.000.000 (nilai penuh) yang telah disepakati. Dana hasil penerbitan saham tersebut akan digunakan untuk keperluan modal kerja, dengan rincian Rp 52 miliar untuk pembelian persediaan dan pembayaran kewajiban lancar, serta Rp 28 miliar untuk biaya operasional efisiensi karyawan.
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen FAST menyatakan langkah ini diambil untuk menambal defisit modal kerja bersih yang saat ini mencatat angka negatif Rp 1,67 miliar, serta menghadapi kondisi keuangan.
Berdasarkan laporan keuangan KFC Indonesia yang diunggah di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), total pendapatan perusahaan turun ke Rp 4,87 triliun pada 2024 dari Rp 5,93 triliun pada tahun sebelumnya.
Selain itu, jumlah gerai yang dioperasikan berkurang 47 gerai dari 762 gerai pada 2023 menjadi 715 gerai pada 2024.
"Di mana, liabilitas perusahaan tercatat mencapai 96 persen dari total aset," tulis dokumen perseroan.
Mengacu Pasal 8B Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.14/2019, penambahan modal dalam rangka memperbaiki posisi keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a dapat dilakukan sepanjang memenuhi kondisi, yang salah satunya adalah apabila suatu perusahaan terbuka mempunyai modal kerja bersih negatif dan mempunyai liabilitas melebihi 80 persen dari aset perusahaan terbuka pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang menyetujui PMTHMETD tersebut.
Dua pemegang saham utama, PT Gelael Pratama dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) milik Grup Salim, akan menyerap sebagian besar saham baru.
Setelah aksi korporasi ini rampung, kepemilikan saham Gelael naik dari 40 persen menjadi 41,18 persen, dan Salim dari 35,84 persen menjadi 37,51 persen.
Namun, aksi private placement ini membawa konsekuensi berupa potensi dilusi saham hingga 11,79 persen bagi pemegang saham yang tidak berpartisipasi.
Manajemen menilai, penetapan harga saham Rp 150 dinilai wajar di tengah ketidakpastian pasar dan dinamika politik nasional.
Perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk mengesahkan rencana ini dijadwalkan pada 16 Mei 2025 dan akan dilaksanakan paling lambat 20 Juni 2025.
Sebagai catatan, FAST membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 796,71 miliar sepanjang tahun 2024, melonjak 91,67 persen year on year (YoY) dibanding kerugian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 415,65 miliar.
