Kumparan Logo

Gubernur BI soal Rupiah di Atas Rp 18.000 per Dolar AS: Ini Volatilitas Biasa

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Gubernur Bank Indonesia (Gubernur BI) Destry Damayanti memastikan terus memantau pergerakan rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sore ini ada di Rp 18.135 per dolar AS atau melemah 55 poin (0,30 persen).

Destry menilai fluktuasi nilai tukar masih bergantung pada permintaan dan penawaran (supply and demand).

"Ya, kita tetap ada di pasar, ini tergantung supply demand hari ini, ya mungkin lagi, pokoknya tetap kita monitor pergerakannya," kata Destry saat ditemui di sela Danantara TIIF26, Senin (26/10).

Destry menuturkan sejauh ini BI belum menyiapkan strategi dan kebijakan baru sebagai langkah intervensi nilai tukar rupiah. Dia menekankan BI akan meninjau akar permasalahan kondisi saat ini.

"Ini volatilitas biasa. Tapi kita akan terus ada, kita lihat root cause-nya juga," tegas Destry.

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Saat acara diskusi, Destry mengatakan saat ini tantangan yang dihadapi BI berasal dari sektor eksternal, salah satunya memperkuat neraca pembayaran termasuk kegiatan ekspor dan impor.

Dia menyoroti impor yang semakin meningkat, terlihat dari defisit neraca perdagangan yang terjadi pada kuartal II 2026. Tidak terkecuali dari sisi komoditas energi, yang diharapkan dapat ditekan dengan adanya mandatori biodiesel atau bioetanol.

"Kita sudah masuk ke B50 kemudian ada etanol E20 dan seterusnya. Ini akan mengurangi impor energi kita yang sekarang ini benar-benar menyebabkan juga defisit kita membesar," jelas Destry.

Kenaikan impor, lanjut Destry, akan berujung pada pelemahan nilai tukar. BI melihat strategi utama yang bisa dilakukan adalah meningkatkan nilai ekspor dan menggencarkan substitusi impor.

Di sisi lain, BI juga terus berupaya mendiversifikasi valuta asing untuk transaksi untuk perdagangan lintas negara maupun investasi, yakni melalui mekanisme Local Currency Transaction (LCT). Destry menuturkan China menjadi mitra dengan transaksi LCT paling besar dengan Indonesia.

"Kita sudah hampir bekerja sama dengan 6 sampai 7 negara di mana transaksi kita dengan mitra utama kita itu kita gunakan mata uang lokal masing-masing, dan saat ini transaksinya sudah mencapai sekitar USD 55 miliar," tutur Destry.