Kumparan Logo

Gubernur BI Yakin Rupiah Menguat Kisaran Rp 16.800 Tahun Depan, Ini Alasannya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur BI Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (kiri), dan Deputi Gubernur BI Aida Budiman (kanan) mengikuti raker dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (kiri), dan Deputi Gubernur BI Aida Budiman (kanan) mengikuti raker dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Gubernur Bank Indonesia (Gubernur BI) Perry Warjiyo yakin rupiah bisa kembali menguat tahun depan, salah satunya karena prospek perekonomian dunia diperkirakan membaik. Rupiah ditargetkan menguat pada rentang Rp 16.800 sampai Rp 17.500 per USD pada 2027.

“Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kita tahun depan, 2027 rupiah akan menguat dalam kisaran Rp 16.800 sampai Rp17.500. Yang pertama, tentu saja kita meyakini bahwa prospek perekonomian dunia itu akan membaik. Ya, gejolak global sulit diprediksi, tapi setidaknya tidak akan seburuk tahun ini,” kata Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta pada Rabu (10/6).

Selanjutnya, Perry melihat prospek ekonomi fundamental Indonesia saat ini sudah baik dan akan semakin baik. Hal ini dicerminkan lewat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inflasi yang terkendali dalam sasaran.

“Demikian juga imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik, pasar keuangan yang berkembang maupun juga dukungan kecukupan cadangan devisa,” ujar Perry.

Ketiga, Perry menuturkan alasan optimisme penguatan rupiah lainnya adalah karena terdapat implementasi kebijakan pemerintah terkait ekspor sumber daya alam satu pintu melalui pendirian PT DSI dan kebijakan terkait DHE.

“Kebijakan-kebijakan ini kami meyakini akan meningkatkan penerimaan devisa dan juga penerimaan pajak maupun penerimaan negara yang lain dalam jumlah yang besar. Dan karena kebijakan ini tidak saja akan memperbesar penerimaan negara untuk pembiayaan bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga akan meningkatkan devisa, meningkatkan cadangan devisa dan mendukung penguatan nilai tukar rupiah ke depan” kata Perry.

Selanjutnya, Perry memastikan terus berkomitmen menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukar rupiah. “Termasuk bagaimana kami tetap menjaga kecukupan cadangan devisa melakukan intervensi baik secara tunai dan forward di dalam negeri maupun juga secara forward di luar negeri,” ujar Perry.

Selanjutnya, BI juga terus berkoordinasi erat terkait upaya menjaga kebijakan fiskal dan moneter bersama pemerintah.

Sementara terkait target pertumbuhan ekonomi 2027 pada rentang 5,1 persen sampai 5,9 persen, Perry juga optimistis target tersebut bisa mencapai batas atas kisaran.

“Kami melihat bahwa 2027 pertumbuhan ekonomi kita akan jauh lebih tinggi. Perkiraan kita 5,1 persen sampai dengan 5,9 persen. Tapi mendengarkan dari Pak Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas, kami yakin bahwa itu akan lebih ke batas atas kisaran. Didukung oleh permintaan domestik, konsumsi yang sangat kuat,” tutur Perry.

video story embed