Kumparan Logo

Hampir Pensiun di Mandiri Malah Jadi Dirut BNI, Ini Misi Royke Tumilaar

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirut BNI, Royke Tumilaar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dirut BNI, Royke Tumilaar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Rabu, 2 September 2020 menjadi hari baru bagi Royke Tumilaar. Lebih dari seperempat abad membangun karier di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk hingga menggapai kursi direktur utama, pemegang saham Seri A kala itu malah menghendakinya pindah memimpin PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.

Di BNI, Royke didapuk menjadi dirut. Padahal, di Mandiri dia hampir pensiun karena sudah dua periode di jajaran direksi dengan jabatan terakhir sebagai dirut. Itu pun, posisi Dirut Mandiri baru dijalaninya 9 bulan, menggantikan Kartika Wirjoatmodjo yang diangkat Presiden Jokowi menjadi Wakil Menteri BUMN II.

Meski tak sampai setahun menjadi Dirut Mandiri, tapi Royke sudah dua periode di jajaran direksi. Karena itu, saat dia menjadi orang nomor satu di Mandiri dengan usianya 55 tahun kala itu, sudah mendekati masa pensiun. Tak banyak yang mengira lulusan University of Technology Sydney ini akan menjadi Dirut BNI, menggantikan Herry Sidharta.

"Aku juga enggak tahu pertimbangan pemegang saham. Mungkin sudah saatnya Mandiri dipimpin yang lebih muda lagi dan saya ditaruh di BNI, mungkin tujuannya supaya ada transformasi di BNI agar berubah," kata Royke dalam perbincangan dengan kumparan di program The CEO, Jumat (18/2).

kumparan post embed

Karena sebagai pejabat BUMN harus siap digeser atau dicopot, Royke menerima mandat pemegang saham untuk pindah ke BNI. Saat masuk ke bank berlogo 46 itu, Royke melihat ada beberapa hal krusial yang harus dibenahi. Pertama, rasio kecukupan modal BNI jauh di bawah bank-bank lainnya.

Berdasarkan catatannya saat rapat dengan DPR RI tahun lalu, Royke pernah melaporkan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BNI di level 18,18 persen per Juni 2021.

Sebagai pembanding, CAR Bank Mandiri di bulan yang sama di level 18,94 persen, BRI di 19,63 persen, dan BCA di level 25,33 persen. Rasio modal tier 1 BNI juga jauh lebih rendah dengan bank lain, di level 15,99 persen. Posisi ini, kata dia, bisa membuat rating BNI turun dan biaya dana atau cost of fund naik.

"Agak ketinggalan lah (BNI) saat itu. Bukan soal balap-balapan sih, tapi waktu itu modal BNI udah agak mepet, makanya prioritas cari modal. Terus NPL (Non-Performing Loan) juga lumayan tinggi. Jadi aku transformasi supaya bisa bangkit dan cepet tumbuhnya," ujar Royke.

Selain membenahi kinerja keuangan, Royke juga ingin citra BNI di publik bagus, termasuk layanan digitalnya. Manajemen juga baru-baru ini menggaet figur publik seperti Raffi Ahmad agar bisa menaikkan branding BNI.

Transformasi lain yang juga dilakukan Royke di BNI adalah menyiapkan kader baru untuk memimpin bank berkode emiten BBNI ini. Dia mengatakan, kaderisasi sangat penting karena menentukan roda perjalanan BNI ke depan. Hal itu juga, menurut dia, yang diharapkan Menteri BUMN Erick Thohir.

"Mungkin karena pengalaman saya transformasi di bank sebelumnya (Mandiri), diharapkan saya lakukan itu juga di BNI. Memang ekspektasi Pak Menteri waktu itu harus transformasi supaya BNI bisa (naik)," ucapnya.

Dirut BNI, Royke Tumilaar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Dengan masuknya Royke ke BNI, argo dia untuk memimpin bank kembali ke nol alias terbuka lebar menjabat selama lima tahun sesuai kontrak. Namun, dia sadar, jabatan yang didapatnya bisa dicopot kapan pun. Karena itu di BNI, selain memperbaiki kinerja keuangan dan branding, dia juga menyiapkan kader.

"Iya mulai nol lagi, tapi kan ada umurnya juga. Enggak terus-terusan. Kita juga kasihan, di sini harus ada kader. Aku kan tujuannya menyiapkan kader di sini, supaya generasi muda BNI punya pemimpin," ujar dia.

Dalam menyiapkan kader-kader terbaik BNI, Royke mengaku selalu menekankan kepada pegawainya agar kerja tidak usah hitung-hitungan dalam bekerja, lakukan semampu dan sebaik mungkin, dan terakhir tidak berharap apa-apa. Seperti dirinya yang mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi dirut bank besar.

Meski begitu, kepada kader-kadernya, dia juga mengingatkan agar selalu siap untuk digeser atau dicopot jabatannya saat berada di kursi direksi. "Kalau berhenti ya berhenti, harus siap. Makanya, saya sering ingetin, jadi direksi mentalnya harus siap," tutur Royke.