Kumparan Logo

Harbour Energy Hengkang dari Blok Tuna, BUMN Rusia Lanjut Jadi Operator

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, saat ditemui usai peresmian peningkatan produksi minyak 30 ribu barel di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (26/6/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, saat ditemui usai peresmian peningkatan produksi minyak 30 ribu barel di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (26/6/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan perusahaan migas asal Inggris, Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna BV, hengkang dari Blok Tuna.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan pengembangan Blok Tuna akan dilanjutkan oleh BUMN migas asal Rusia, Zarubezhneft lewat anak usahanya di Asia, ZN Asia Ltd (ZAL), sebagai operator.

Harbour Energy dan Zarubezhneft sebelumnya bermitra di Blok Tuna dengan masing-masing memiliki 50 persen hak partisipasi atau participation interest (PI). Namun, perkembangan blok tersebut terdampak sanksi Uni Eropa dan Inggris selama eskalasi konflik Rusia dan Ukraina.

"ZAL dia akan mengerjakan Blok Tuna. Lagi cari partner juga," ungkap Djoko di sela-sela konferensi pers Kinerja Semester I 2025, dikutip pada Selasa (22/7).

Awalnya, SKK Migas membuka peluang Harbour Energy, yang berperan sebagai operator di Blok Tuna, mencari mitra lain pengganti Zarubezhneft selama eskalasi konflik Rusia dan Ukraina.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyebutkan Harbour Energy memiliki minat lain di blok migas wilayah Laut Andaman.

Saat ini, Harbour Energy memiliki portofolio di beberapa blok migas di Laut Andaman, termasuk Andaman I, Andaman II, dan South Andaman, bekerja sama dengan Mubadala Energy dan bp.

"Posisi dari KKKS Harbour sebelumnya bahwa dia tidak bisa lanjut kalau ada saksi dari AS di mitra sebelahnya. Dalam konteks tersebut, Harbour kelihatannya juga punya selera investasi lainnya di Laut Utara, dan ZAL ini yang akan melanjutkan (Blok Tuna)," ungkap Rikky.

Nantinya, lanjut Rikky, Zarubezhneft sebagai operator baru akan mencari mitra lain untuk menggarap Blok Tuna bersama-sama. Dia menyebutkan ada beberapa perusahaan mulai tertarik membuka data, meskipun dia enggan menjelaskan dengan rinci.

"Harbour selaku operator bersedia untuk menyerahkan data-datanya kepada next operator berikutnya. ZAL perlu menggandeng investor-investor baru yang bisa operasi, karena ZAL sebelumnya juga non operator di sini," jelasnya.

Rikky menyebutkan, SKK Migas menugaskan ZAL melanjutkan kegiatan Front End Engineering Design (FEED), serta menuntaskan proyek tersebut sesuai target.

SKK Migas menargetkan Blok Tuna bisa mulai berproduksi (on stream) pada tahun 2028-2029. Target ini sejatinya mundur dari rencana awal yakni ditargetkan on stream pada tahun 2026-2027.

Pasalnya, Blok Tuna sudah mendapatkan persetujuan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) pada Desember 2022. Imbas kemelut ini, Harbour Energy pun harus menunda investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) menjadi 2025.

"(Target on stream di 2028-2029 nanti kami cek lagi ya. Kami tidak ingin ada kemunduran on stream. Jadi dari sisi divestasinya kita ingin segera diselesaikan antara partner-partner," tegas Rikky.

Dengan demikian, SKK Migas meminta seluruh proses divestasi Harbour Energy dan pencarian mitra baru di Blok Tuna setidaknya bisa rampung di akhir Juli 2025 ini.

"Proses divestasinya segera selesai di bulan ini. ZAL belum punya pengalaman yang terlihat bahwa dia melaksanakan running kegiatan operasional di lapangan sebelumnya. Pak Kepala (SKK Migas) sudah memerintahkan Juli ini harus selesai," pungkas Rikky.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Blok Tuna diperkirakan memiliki potensi gas di kisaran 100 hingga 150 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). Selain itu, investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional juga ditaksir mencapai USD 3,07 miliar atau setara dengan Rp 45,4 triliun.