Kumparan Logo

Harga BBM di Malaysia Lebih Murah dari RI, Kok Bisa?

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas mengganti papan harga SPBU jelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Jakarta, Sabtu (3/9/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengganti papan harga SPBU jelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Jakarta, Sabtu (3/9/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Pemerintah baru saja menaikkan harga BBM pada Sabtu (3/9). Jenis BBM yang dinaikkan harganya yakni Pertalite (RON 90) dari sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter, Pertamax (RON 92) yang semula Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter, dan Solar (CN51) dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter.

Sebelum dinaikkan, harga BBM di Indonesia masih lebih mahal kalau dibandingkan dengan Malaysia. Mengutip hargapetrol.my, BBM RON 95 di Malaysia dijual dengan harga RM 2,05 atau setara Rp 6.797 per liter. Kemudian BBM RON 97 dijual RM 4,30 atau Rp 14.258 per liter. Dan untuk BBM jenis diesel dijual dengan harga RM 2,15 atau setara Rp 7.129 per liter.

Lantas, mengapa harga BBM di Malaysia bisa lebih murah dibandingkan di Indonesia?

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengungkap anggaran subsidi untuk BBM di Malaysia sangat besar. Sehingga harga BBM di Malaysia bisa lebih murah dibandingkan Indonesia.

"Setahu saya Pemerintah Malaysia memberikan subsidi yang sangat besar juga untuk BBM RON 95 sehingga harganya murah," kata Mamit kepada kumparan, Senin (5/9).

Tak hanya besaran subsidi saja, Mamit menjelaskan harga BBM di Malaysia bisa lebih murah karena faktor jumlah kendaraan di negara tersebut tidak sebanding dengan Indonesia.

Selain itu, ada faktor geografis di mana jalur distribusi di Malaysia lebih mudah dibandingkan dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

"Keempat, pajak di sana tidak sebesar di Indonesia. Di kita ini ada komponen PPN, PBBKP serta iuran BPH Migas," ujar Mamit.

Keuangan Pemerintah Malaysia Lebih Tangguh?

Salah satu faktor Pemerintah Indonesia menaikkan harga BBM adalah anggaran subsidi yang berpotensi jebol. Anggaran subsidi berpotensi jebol hingga Rp 698 triliun, padahal anggaran yang disiapkan tahun ini hanya sebesar Rp 502 triliun.

Mamit mengatakan sebetulnya anggaran Pemerintah Malaysia juga berpotensi jebol seperti di Indonesia, hanya saja perbedaannya dari segi ketahanan finansial.

"Saya kira sama-sama jebol, hanya saja keuangan Malaysia jauh lebih baik. Serta konsumennya enggak sebanyak kita," jelas Mamit.

Dia mengatakan, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia saat ini sebanyak 147 juta unit. Sementara di Malaysia hanya 33,2 juta unit.

Pengisian BBM di SPBU Pertamina. Foto: Pertamina

"Selain itu, Malaysia juga produksi minyaknya sangat besar. Berdasarkan dara Knomea, pada tahun 2014 Malaysia mengekspor 5,5 persen hasil produksi minyak mereka. Berbeda dengan kita yang sejak tahun 2008 sudah menjadi nett importir," tutur Mamit.

Dengan kondisi perbedaan seperti itu, Mamit menyebut apabila dicari perbandingan maka lebih tepat jika Indonesia dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya yakni Laos dan Vietnam. Menurutnya, di kedua negara tersebut harga BBM masih jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia karena di sana tidak ada subsidi.

Mengutip dari globalpetrolprices, BBM RON 95 di Vietnam dijual dengan harga VND 25.247,5 atau setara Rp 16.031. Sementara BBM RON 95 di Laos dijual dengan harga LAK 26.240 atau setara Rp 24.900 per liter.

Subsidi BBM Malaysia Cetak Rekor Capai Rp 100 Triliun

Malaysia menerapkan kebijakan subsidi BBM mencatatkan rekor alokasi anggaran hingga 30 miliar ringgit atau hampir setara Rp 100 triliun. Angka itu memang jauh di bawah alokasi anggaran subsidi BBM Indonesia yang di 2022 ini mencapai Rp 502 triliun.

Namun, Malaysia juga mulai mempertimbangkan untuk membatasi subsidi, hanya untuk masyarakat miskin dan menengah.

Dikutip dari Business Times, Kamis (25/8), total alokasi subsidi energi dan non-energi di Malaysia pada tahun ini mencapai 77,3 miliar ringgit. Dari angka yang setara Rp 256 triliun itu, porsi terbesar adalah untuk subsidi BBM yakni mencapai 30 miliar ringgit atau setara Rp 100 triliun.

"Bulan lalu saja, pemerintah menghabiskan 5 miliar ringgit (Rp 16,6 triliun) untuk subsidi bahan bakar," kata Menteri Keuangan Malaysia, Tengku Zafrul Aziz.

Malaysia mengambil kebijakan memberikan subsidi untuk semua jenis BBM untuk seluruh masyarakat. Tak heran jika harga BBM di Malaysia, jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia dengan kualitas yang lebih baik.

Malaysia menjual BBM dengan nilai oktan terendah pada RON 95 yang setara dengan Pertamax Plus (Kini sudah tidak dijual) atau Shell V-Power.