Harga BBM Naik: Sopir Ojol Keberatan, Buruh Demo Besar-besaran

4 September 2022 8:56 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara tolak kenaikan BBM pada aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Kamis (1/9/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara tolak kenaikan BBM pada aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Kamis (1/9/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Pemerintah resmi menaikkan harga BBM per Sabtu (3/9) pukul 14.30 WIB. Perubahan harga yakni untuk BBM subsidi Pertalite dan Solar serta BBM nonsubsidi Pertamax.
ADVERTISEMENT
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) ini disikapi dengan berbagai cara oleh masyarakat. Mulai dari sopil ojol keberatan, hingga serikat buruh yang bersiap demo besar-besaran.

Sopir Ojol hingga Ibu Rumah Tangga Sebut Harga BBM Naik Memberatkan

Seorang pengemudi ojek online bernama Rudi mengeluhkan kenaikan harga BBM yang baru. Rudi mengatakan, harga BBM yang baru sangat memberatkan bagi tukang ojek online, terutama jika sedang sepi orderan.
"Memberatkan harganya terlalu tinggi. Buat ojol berat apalagi kalau sepi," kata Rudi di SPBU daerah Kemanggisan, Jakarta Barat, Sabtu (3/9).
Rudi pun berharap pemerintah kembali mempertimbangkan kenaikan harga BBM. Ia meminta pemerintah membatalkan kenaikan tersebut. "Lebih baik dibatalkan (kenaikan BBM). Kasihan ojol," sebut dia.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, seorang ibu rumah tangga mengaku kenaikan BBM ini memberatkan bagi keluarga. Apalagi, harga kebutuhan pokok tengah naik.
"Beban makin berat. Harga telur lagi naik," keluh sang ibu yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Curhat Warga soal Harga BBM Naik, Gaji Tak Naik

Salah satu warga, Ferin mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan kenaikan harga BBM. Menurut dia, dengan naiknya harga BBM akan merembet ke semua bidang.
"Dampaknya pasti ini akan lebih luas. Karena BBM naik pasti semuanya akan ikut naik. Ya sembako, ya semuanya," katanya.
Warga lainnya, Tika, mengaku kenaikan harga BBM ini sangat mempengaruhi keuangannya. Dia berharap, pemerintah bisa kembali menurunkan harga BBM.
"Enggak setuju sebenernya, kaget juga, agak keberatan karena mahal, jadi Rp 14.500. Agak mahal sih dari yang sebelumnya," ucap Tika.
ADVERTISEMENT
"Harapannya turun lagi, normal, lagi, turun dulu, dan gaji harap juga naik, amin," sambungnya.

Pengusaha Harap Omzet Tetap Terjaga

Ketua Umum DPD HIPPI Provinsi DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, kenaikan harga BBM subsidi merupakan dampak dari selisih harga jual dan keekonomian BBM yang sangat besar akibat melonjaknya harga minyak mentah.
"Pelaku usaha sangat memahami dan mengerti kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM yang selama ini disubsidi, tidak ada pilihan karena memang gejolak harga minyak mentah dunia yang tidak bisa dihindari," ujarnya melalui keterangan resmi, Sabtu (3/9).
Sarman berpendapat, besaran kenaikan BBM tersebut masih di angka yang moderat, artinya harga masih terjangkau oleh masyarakat, sehingga inflasi dan daya beli masyarakat tetap bisa terjaga.
ADVERTISEMENT
Dengan begitu, lanjut Sarman, terjaganya daya beli dan konsumsi rumah tangga maka omzet pelaku usaha tidak turun secara drastis, sehingga tidak menurunkan produktivitas pelaku usaha.

Buruh Bakal Aksi Besar-besaran 6 September

Serikat Buruh kembali menegaskan penolakannya terhadap kenaikan harga BBM. Presiden KSPI yang juga Presiden Partai Buruh Said Iqbal menyampaikan, ada beberapa alasan mengapa pihaknya menolak kenaikan tersebut.
Pertama, kenaikan BBM tersebut akan menurunkan daya beli yang sekarang ini sudah turun 30 persen. Dengan BBM naik, maka daya beli akan turun lagi menjadi 50 persen.
"Penyebab turunnya daya beli adalah peningkatan angka inflasi menjadi 6,5-8 persen, sehingga harga kebutuhan pokok akan meroket," kata Said Iqbal dalam keterangan resmi.
Di sisi lain, lanjutnya, upah buruh tidak naik dalam 3 tahun terakhir. Bahkan Menteri Ketenagakerjaan sudah mengumumkan jika Pemerintah dalam menghitung kenaikan UMK 2023 kembali menggunakan PP 36/2021. "Dengan kata lain, diduga tahun depan upah buruh tidak akan naik lagi," tegasnya.
ADVERTISEMENT
Alasan kedua buruh menolak kenaikan BBM karena dilakukan di tengah turunnya harga minyak dunia. Terkesan sekali, pemerintah hanya mencari untung di tengah kesulitan rakyat.
Terkait dengan bantuan subsidi upah sebesar Rp 150 ribu selama 4 bulan kepada buruh, menurut Said Iqbal ini hanya "gula-gula saja" agar buruh tidak protes. Subsidi upah itu, kata dia, tidak akan menutupi kenaikan harga akibat inflasi yang meroket.
Said Iqbal juga mengkhawatirkan, dengan naiknya BBM maka ongkos energi industri akan meningkat. Hal itu bisa memicu terjadinya ledakan PHK.
Oleh karena itu, Partai Buruh dan Serikat Buruh akan melakukan aksi puluhan ribu buruh pada 6 September 2022. Di Jakarta, aksi akan dipusatkan di DPR RI untuk meminta pimpinan DPR RI memanggil Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri ESDM Arifin Tasrif, dan para menteri yang terkait dengan kebijakan perekonomian.
ADVERTISEMENT