Harga Beras Naik di Sejumlah Pasar Jakarta, Stok di Ritel Mulai Menipis
·waktu baca 4 menit

Harga beras di sejumlah pasar di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat terpantau mengalami kenaikan tipis. Kondisi tersebut diyakini karena seretnya pasokan beras yang masuk, imbas ricuhnya demo beberapa hari lalu dan juga isu oplosan yang sempat beredar.
Di Pasar Palmerah, Jakarta Selatan, seorang pedagang bernama Pacing mengatakan harga beras medium yang dijualnya kini berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) nasional Rp 13.500 per liter.
“Saya jual (beras) medium per liter itu Rp 14.500 (per liter) hari ini, kalo (beras) premium nggak jual dulu di sini, adanya beras SPHP (Stabilitas Pasokan Harga Pangan),” kata Pacing kepada kumparan, Rabu (3/9).
Adapun Pacing menjelaskan bahwa alasan dirinya tak menjual beras premium dalam beberapa waktu terakhir dikarenakan harga jualnya yang suka naik turun melebihi HET, sehingga ia tidak berani untuk jual beras kemasan terlebih dahulu. “Gak dulu jualan premium, soalnya harganya naik-turun gak jelas,” sebutnya.
Pacing menjelaskan bahwa kemungkinan harga naik karena bentuk antisipasi imbas pasokan yang sempat seret beberapa hari terakhir karena demo. Ia pun juga percaya bahwa pasokan seret kemarin dikarenakan banyak pemasok baik yang dari Jakarta atau daerah luar sana yang enggan menyalurkan barang karena takut dijarah oleh pendemo.
“Nah (karena demo) iya. Jadi mereka (pemasok) takut demo, kan bisa aja kena jarah tuh. Jadinya sempet seret. Sama kayak toko-toko emas, yang emasnya disimpan dulu, tapi tokonya masih buka,” tutur Pacing.
Meski demikian, Pacing memastikan bahwa seiring dengan kondisi Jakarta yang telah kondusif, pasokan di tokonya dan juga beberapa toko temannya sudah mulai aman. Harga beras pun sudah mulai kembali normal, meski naik tipis per hari Rabu (3/9). “Pokoknya sekarang ada harga ada barang aja. Walaupun yang medium ini saya masih jual di atas HET ya,” tambahnya.
Sementara di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, salah seorang pedagang yang tak mau disebutkan namanya itu mengatakan harga beras di lapaknya kini sudah normal, baik untuk medium maupun premium.
“Beras premium memang kemarin sempat naik sekitar Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per kg, jadi jualnya ya ditotalkan Rp 100.000 an per 5 kg. Itu beberapa hari kemaren, sekarang sih aman aja. Kalau yang medium ini saya jual Rp 12.000 per liter, ada yang Rp 13.000 per liter, ini (Rp 13.000) yang pulen,” ucap pedagang tersebut.
Pedagang itu juga membenarkan bahwa pasokan beras, baik medium maupun premium, memang sempat tersendat dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia meyakini kondisi tersebut lebih dipicu isu oplosan yang masih beredar, bukan karena demo.
“Kalau menurut saya sih bukan karena demo ya, mungkin lebih karena isu oplosan kemaren. Waktu demo juga keadaan pasar di sini (sekitar Bendungan Hilir) juga aman-aman aja. Padahal pasar kita kan diapit sama beberapa lokasi demo,” katanya.
Kondisi berbeda pun terlihat di ritel modern. Di Alfamidi Bendungan Hilir, rak beras premium termasuk beras SPHP kosong sama sekali dalam beberapa hari terakhir, menyisakan kemasan beras merah dan beras coklat. Petugas di sana pun mengaku kebingungan karena pengiriman dari pemasok tidak kunjung datang.
“Nggak tau juga saya (penyebabnya), dari mulai Sabtu (30/8) itu beras gak ada di sini. Adanya beras merah sama coklat doang,” ucap petugas Alfamidi.
Sedangkan di Supermarket Lotte daerah Kuningan, stok beras premium masih tersedia cukup banyak, tetapi persediaannya masih menggunakan pasokan lama tanpa ada stok baru.
Harga kemasan beras premium pun juga jauh di atas Rp 100.000 per 5 kg seperti yang di jual di pasar tradisional maupun agen beras, yaitu berada di kisaran Rp 126.000 hingga Rp 140.000 per 5 kg dari dua merek berbeda yang tersedia di ritel tersebut.
“Stoknya sih belum ada yang masuk lagi, itu karena jarang yang beli, jadi belum ada pasokan lagi,” kata penjaga ritel.
Sama seperti di Alfamidi, beras SPHP pun tak terlihat sama sekali di ritel asal Korea tersebut.
