Harga CPO Diramal Terus Merosot, Pengusaha Sawit Siap Kencangkan Ikat Pinggang
·waktu baca 2 menit

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan anjloknya harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dunia beberapa hari terakhir sedang diwaspadai oleh para pengusaha sawit dalam negeri.
Terpantau di situs bursamalaysia.com hari ini pukul 14.39 WIB, harga CPO untuk kontrak pengiriman September 2022 berada di harga MYR 4.555 per ton. Angka ini turun cukup besar dari pembukaan perdagangan hari ini sebesar MYR 4,817 per ton.
Sekretaris Jenderal GAPKI Eddy Martono membenarkan bahwa pengusaha sawit di Indonesia sedang merasakan turunnya harga CPO dunia akibat terjadi pelemahan permintaan CPO dunia. Selain itu, dia juga menyebutkan faktor lain adalah karena panen kedelai di Brasil yang cukup bagus.
"Kedelai atau soybean kan jadi minyak nabati juga (soybean oil), negara importir CPO juga importir kedelai atau minyak kedelai," jelasnya kepada kumparan, Jumat (24/6).
Lanjut Eddy, pihaknya pun hanya bisa mengantisipasi dan memantau pergerakan harga lantaran Indonesia tidak berdaya untuk memengaruhi harga CPO dunia. Dia menilai, komoditas ini sudah wajar mengalami fluktuasi di tengah pelemahan ekonomi global.
"Kalau sudah seperti ini harus mulai mengencangkan ikat pinggang, kita pelaku usaha tidak bisa menentukan harga. Harga CPO juga dipengaruhi harga minyak nabati lain. Sekali ke depan tergantung supply dan demand, kalau ekonomi global melemah permintaan juga akan melemah," tutur dia.
Sebelumnya, Direktur Center of Law and Economic Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menjelaskan penyebab dari kondisi turunnya harga CPO salah satunya permintaan global yang menurun karena sinyal perlambatan ekonomi dan resesi Amerika Serikat.
"Beberapa produsen makanan minuman, kosmetik, dan oleokimia membatasi pembelian CPO dari malaysia dan indonesia untuk mengantisipasi penurunan konsumsi rumah tangga," katanya kepada kumparan, Kamis (23/6).
Bhima melanjutkan, pasokan CPO dunia semakin berlimpah usai Indonesia mencabut larangan ekspor. Di sisi lain, Malaysia mendorong produksi CPO lebih tinggi. Dia pun memperkirakan penurunan harga CPO akan terus berlanjut hingga menyentuh MYR 3.000 per ton.
"Akibatnya antara penawaran dan permintaan secara internasional tidak imbang, harga CPO bisa terkoreksi lebih dalam di bawah MYR 3.000 per ton," tandasnya.
