Kumparan Logo

Harga Daging Sapi di Pasar Tradisional Surabaya Masih Normal, Kok Bisa?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Daging sapi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Daging sapi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Harga daging sapi di pasar tradisional Surabaya relatif stabil. Harga daging sapi berkisar harga Rp 110.000 hingga Rp 112.000 per kilogram (kg). Kondisi ini berbeda dengan beberapa wilayah di Jabodetabek yang mulai mengalami kenaikan, bahkan menembus Rp 160.000 per kg.

Padahal, harga daging sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) sendiri mengalami kenaikan harga sekitar Rp 3.000 per kg. Meskipun begitu, pedagang mengaku tetap menjual dengan harga normal, alasannya karena takut dagangan mereka tidak laku.

"Harga normal. Aslinya naik, cuma di sini (Pasar Wonokromo Surabaya) enggak berani naik. Yang naik itu di RPH-nya. Enggak dinaikkan karena takutnya enggak laku." kata Nurhalimah, seorang pedagang daging sapi di Pasar Wonokromo Surabaya, Jumat (25/2).

Menurutnya, pedagang terpaksa menjual dengan harga normal kepada langganan, walaupun harus mendapatkan untung yang sedikit. Hal ini disebabkan oleh sepinya pembeli daging sapi saat ini.

Daging sapi di Pasar Wonokromo, Surabaya. Foto: Gabriel John/kumparan

Pedagang daging sapi juga memprediksi harga daging di pasar hanya akan naik memasuki bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran. Nurhalimah memprediksi, nantinya harga daging sapi akan naik menjadi Rp 120.000 per kg.

Dia menambahkan, penjualan daging sapi berkurang bukan karena adanya kenaikan harga. Melainkan kasus omicron yang meningkat, sehingga sepi pembeli.

"Biasanya 2 kuintal (200 kg) menjadi 1 kuintal (100 kg), turun 50 persen," jelasnya.

Sementara itu, Nurul, salah satu pedagang daging sapi lainnya di Pasar Wonokromo, mengatakan jika nantinya di Surabaya terjadi kenaikan harga daging sapi, pedagang tak akan melakukan aksi unjuk rasa atau mogok berjualan.

"Harapannya jangan naik. Enggak naik aja sepi, kalau naik, nanti bagaimana," kata Nurul.

Nurul mengakui, penjualan daging sapi miliknya mengalami penurunan hampir 20 persen dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, ini karena sepinya pembeli di pasar tradisional akibat kasus omicron.

Reporter: Gabriel Jhon