Harga Emas Dunia Masih Tertekan Konflik Iran-Israel, Turun 5% dalam Sepekan
·waktu baca 3 menit

Harga emas dunia masih melanjutkan tren pelemahan di tengah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Tekanan terhadap logam mulia terjadi setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke Israel, yang berpotensi mengganggu upaya perdamaian dan kembali memicu ketidakpastian di pasar global.
Pada perdagangan Senin (8/6), harga emas dunia berada di kisaran USD 4.335 per troy ons. Posisi tersebut menyusul penurunan hampir 5 persen sepanjang pekan lalu. Serangan terbaru Iran pada Minggu menandai eskalasi ketegangan terbesar sejak gencatan senjata disepakati pada awal April.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan masih menginginkan penyelesaian konflik dengan Teheran melalui jalur diplomatik.
Kepala Analisis Pasar StoneX Group Inc., Rhona O’Connell, menilai sejumlah persoalan utama terkait konflik di Timur Tengah hingga kini masih belum menemukan jalan keluar.
“Isu-isu utama yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah masih belum terselesaikan,” tulis O’Connell dalam sebuah catatan riset.
“Pandangan kami bahwa harga emas cenderung bergerak turun sejauh ini terbukti benar, tetapi kami tetap mencermati kemungkinan munculnya aksi beli saat harga murah," tambahnya.
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari Amerika Serikat. Pada Jumat lalu, emas menghapus seluruh kenaikan yang tercatat sejak awal tahun setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan pasar.
Kondisi itu memicu spekulasi bahwa Federal Reserve berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada 2026. Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, yang pada akhirnya mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS pada Mei melampaui seluruh proyeksi analis. Penguatan dolar yang menyusul rilis data tersebut turut menekan harga emas karena logam mulia diperdagangkan dalam denominasi mata uang AS.
Meski demikian, pasar masih mendapatkan sentimen penopang dari permintaan bank sentral. Investor terus memantau langkah People’s Bank of China yang kembali menambah cadangan emas sekitar 10 ton pada bulan lalu.
Jumlah tersebut menjadi pembelian bulanan terbesar sejak 2024 sekaligus memperpanjang tren akumulasi emas China menjadi 19 bulan berturut-turut. Langkah itu menunjukkan permintaan yang tetap kuat dari salah satu pembeli emas terbesar di dunia.
Pada pukul 07.40 waktu Singapura, harga emas tercatat naik tipis 0,2 persen menjadi USD 4.337,91 per troy ons. Sementara itu, harga perak menguat 0,2 persen ke USD 67,94 per troy ons setelah merosot hampir 10 persen sepanjang pekan lalu.
Logam mulia lainnya juga bergerak di zona hijau. Platinum dan paladium sama-sama mencatat kenaikan pada perdagangan pagi.
Adapun indeks Bloomberg Dollar Spot, yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, naik 0,1 persen. Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan 1,1 persen yang tercatat sepanjang pekan lalu.
