Kumparan Logo

Harga Emas Global Merosot 1% ke USD 4.495, Investor Waspada Inflasi Tinggi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi emas batangan. Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi emas batangan. Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS

Harga emas global kembali melemah pada perdagangan Senin (18/5) di tengah belum adanya kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi global dan mengguncang pasar obligasi.

Dikutip dari Bloomberg, pukul 09:15 waktu Singapura, harga emas spot tercatat turun 1 persen menjadi USD 4.495,06 per troy ounce. Sementara itu, harga perak turun 2,5 persen menjadi USD 74,06 per ounce setelah pekan lalu anjlok lebih dari 5 persen.

Harga emas spot sempat turun hingga 1,3 persen ke kisaran USD 4.480 per troy ounce setelah pekan lalu merosot hampir 4 persen. Secara keseluruhan, harga logam mulia itu telah terkoreksi sekitar 15 persen sejak konflik Iran pecah beberapa pekan lalu.

Tekanan terhadap emas muncul seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, masih efektif tertutup. Harga minyak kembali naik setelah Presiden AS Donald Trump memperbarui ancaman terhadap Iran, sehingga memicu spekulasi kenaikan suku bunga yang biasanya membebani aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Pasar obligasi global juga mengalami tekanan hebat akibat kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat perang akan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga lebih tinggi.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Analis Senior Komoditas ANZ Group Holdings, Daniel Hynes, mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi membuat daya tarik emas bagi investor mulai berkurang.

“Profil risk-reward emas memburuk sehingga investor mulai melepas posisi mereka,” ujar Hynes dalam catatannya.

Meski begitu, ANZ menilai bank sentral pada akhirnya akan kembali melonggarkan kebijakan moneter untuk menopang pertumbuhan ekonomi global yang tertekan konflik berkepanjangan. ANZ pun memproyeksikan harga emas masih berpotensi naik hingga USD 6.000 per troy ounce pada pertengahan 2027.

Pasar juga menyoroti serangan drone misterius pada Minggu (17/5) yang memicu kebakaran di fasilitas nuklir Uni Emirat Arab. Insiden tersebut kembali memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Di sisi lain, permintaan emas India diperkirakan melemah akibat kebijakan impor yang semakin ketat. Pemerintah India juga memperketat aturan impor perak demi menjaga nilai tukar rupee yang kini berada di titik terendah sepanjang sejarah. Namun pelemahan permintaan dari India diperkirakan dapat diimbangi oleh meningkatnya permintaan dari China.

Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat Federal Reserve AS bulan April yang akan dirilis pekan ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga ke depan. Indeks Bloomberg Dollar Spot yang mengukur kekuatan dolar AS juga naik 0,1 persen setelah menguat 1,2 persen sepanjang pekan lalu.

instagram embed