Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.102.2

ADVERTISEMENT
Ombudsman RI (ORI) meminta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk menunda impor beras 1 juta ton hingga bulan Mei 2021. Permintaan ini lantaran sekarang mulai masuk musim panen raya, sehingga kedatangan beras impor akan menekan harga beras di tingkat petani.
ADVERTISEMENT
“Bahwa pelaksanaannya ditunda bukan pembatalan keputusan impor. Tapi ditunda. Dan dijamin enggak dilakukan di tengah panen raya padi,” kata Anggota ORI Yeka Hendra Fatika dalam Konferensi Pers virtual Polemik Impor beras, Rabu (24/3).
Yeka melihat harga beras saat ini turun karena dampak psikologis keputusan impor beras 1 juta ton. Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Januari-April akan terjadi kenaikan produksi beras sebanyak 3,08 juta ton. Sementara periode tahunan, produksi beras pada tahun ini diprediksi sebesar 14 juta ton dibanding tahun lalu 11 juta ton.
Berdasarkan catatannya, saat ini harga gabah pada bulan Januari 2020 Rp 5.273 per kilogram (kg), sementara pada periode yang sama tahun ini turun menjadi Rp 4.900 per kg.
ADVERTISEMENT
“Jadi sebelum ada isu impor harga gabah udah turun. Apalagi info berlebih,” tambahnya.
Oleh karena itu, pihaknya mendesak Kemenko Perekonomian supaya menunda keputusan impor beras hingga bulan Mei. Selain itu, ORI juga meminta Airlangga Hartarto memutuskan impor beras berdasarkan acuan data yang jelas sehingga tidak merugikan petani dan Perum Bulog sebagai operator.
Hingga 14 Maret 2021, persediaan beras di gudang Bulog mencapai 883.585 ton dengan rincian 859.877 ton merupakan stok cadangan beras pemerintah (CBP), dan 23.708 ton stok beras komersial.
Dari jumlah stok CBP yang ada saat ini, terdapat beras turun mutu eks impor tahun 2018 sebanyak 106.642 ton dari total impor beras tahun 2018 sebesar 1.785.450 ton.