Kumparan Logo

Harga Global Tembus USD 335 per Ton, Pemerintah Genjot Produksi Jagung Lokal

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden Jokowi bertemu delegasi Dana Moneter Internasional (IMF) di Istana Kepresidenan Bogor, Minggu (17/7).  Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden Jokowi bertemu delegasi Dana Moneter Internasional (IMF) di Istana Kepresidenan Bogor, Minggu (17/7). Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hasil rapat terbatas (ratas) terkait peningkatan produksi jagung nasional dalam menguatkan ekosistem pangan nasional.

Airlangga menyebut, produksi jagung nasional di daerah akan ditingkatkan di 6 provinsi, yaitu Papua, Papua Barat, NTB, Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara. Total luasnya mencapai 141 ribu hektar, dengan tambahan 86 ribu hektar baru.

“Dengan harga global yang tembus USD 335 per ton atau setara Rp 5 ribu per kg, perlu ada peningkatan produksi termasuk ekstensifikasi dari lahan yang ada. Salah satu ekstensifikasi yang dilakukan adalah mendorong jagung rekayasa genetik (Genetically Modified Organism/GMO) atau hibrida,” ujar AIrlangga usai ratas, Senin (1/8).

Dari segi hibrida, lanjut Airlangga, pemerintah mendorong bibit unggul hibrida jagung sebesar 10,6 sampai 13,7 juta ton per hektar. Pemerintah akan menyediakan 14 varietas bibit jagung, antara lain benih Pertiwi 3 F1, NK Perkasa, Singa, Bima, Dahsyat, Pioneer 36 (P36), dan lainnya.

Kebun Jagung di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu (17/10/2018). Foto: Abdul Latif/kumparan

Airlangga memperkirakan produksi nasional dengan kadar air 27 persen sampai akhir tahun bisa mencapai 25 juta ton. Apabila kadar air yang dibutuhkan 14 persen setara dengan 18,6 juta ton. Dengan demikian, produksi feedmill (pabrik pakan) nasional bisa terpenuhi secara nasional.

“Kapasitas terpasang memang bisa mencapai 27 juta (ton), tetapi sekarang beroperasi dengan kebutuhan 14 juta (ton). Kita memiliki cadangan jagung sebesar 3 juta,” katanya.

Airlangga menyebut produksi jagung untuk kebutuhan industri berbasis pati jagung, snack, pemanis dan industri kesehatan. Agar spesifikasi bisa meningkat, penambahan jumlah dryer dan silo dilakukan karena produksi lahan jagung dan feedmill tidak berada dalam provinsi yang sama.

“Masalah logistik dan silo jagung, transportasi jadi perhatian utama. Presiden arahkan pengembangan, baik untuk alat mesin pertanian (Alsintan) apakah dryer menggunakan kredit dari perbankan,” pungkasnya.