Harga Gula Melonjak 40% Jelang Musim Festival, India Terpaksa Impor 1 Juta Ton

Ada banyak festival di India sepanjang Agustus, mulai dari Ganesh Chaturthi, Dussehra, hingga Diwali. Namun, masa-masa sibuk ini menjadi masalah bagi India.
Dikutip dari BBC, Sabtu (29/8), harga gula di India melonjak hingga 40 persen dalam dua bulan terakhir, yang mendorong pemerintah untuk mengimpor 1 juta ton gula untuk pertama kalinya dalam hampir 1 dekade.
Langkah ini diambil karena tingginya permintaan. Perusahaan makanan dan minuman juga mulai menambah stok untuk salah satu periode penjualan tersibuk, yang turut menekan harga grosir.
Produksi kini diperkirakan mencapai 30,6 juta ton pada musim berjalan (Oktober 2025-September 2026), 11 persen lebih rendah dari perkiraan awal pemerintah sebesar 34,3 juta ton.
Kondisi pasokan ini memicu lonjakan harga. Harga gula per kilogram yang pada Mei-Juni berkisar antara 40-50 rupee sempat menembus lebih dari 58-60 rupee di beberapa pasar pada Agustus, meski kini harganya mulai sedikit turun.
Kenapa India yang merupakan negara produsen gula terbesar kedua di dunia kini harus mengimpor gula?
Pemerintah menyebut penyebab lemahnya produksi tebu akibat berkurangnya curah hujan selama El Nino. Namun, para ahli mengatakan faktor utama lainnya adalah India terlalu optimistis dalam memperkirakan produksinya sendiri, dan mengizinkan gula diekspor sebelum besaran kekurangan pasokan belum diketahui secara pasti.
Pemerintah pada akhirnya menyetujui ekspor sebesar 1,5 juta ton pada musim ini, lalu menambah kuota sebesar 500 ribu ton pada Februari. Hampir 800 ribu ton telah dikirim sebelum ekspor dihentikan pada Mei.
"Dari yang awalnya mengizinkan ekspor di awal musim hingga berakhir dengan mengimpor satu juta ton merupakan variasi yang sangat besar pada estimasi produksi — dan itu adalah kejutan yang besar," ujar Vikram Suryavanshi, analis senior di PhillipCapital India.
Hal ini menjadi masalah penting karena India pada dasarnya hampir tidak memiliki cadangan gula tersisa. India mengkonsumsi lebih dari 28 juta ton gula pada musim lalu, angka yang tak jauh dari total estimasi produksi tahun ini.
Selain itu, hampir tiga juta ton gula diperkirakan akan dialihkan untuk produksi etanol, sehingga menyisakan sedikit sekali ruang jika terjadi kekurangan pasokan.
Menurut Direktur Non-Eksekutif Shree Renuka Sugars, Atul Chaturvedi, di sinilah pasokan impor akan membantu menjadi penyangga atau buffer. Selama tiga bulan terhitung mulai 1 September, kilang gula yang beroperasi di Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zones) di dekat pelabuhan—yang biasanya mengimpor gula mentah, memurnikannya, lalu mengekspornya kembali—akan diizinkan untuk menjual gula bebas bea masuk ke pasar domestik.
Terakhir kali India mengimpor gula untuk konsumsi dalam negeri adalah hampir satu dekade lalu, saat India berjuang menghadapi kekeringan.
Langkah-langkah lain juga tengah disiapkan. Asosiasi Pabrik Gula India (ISMA) telah meminta pabrik-pabrik untuk mulai menggiling tebu dua minggu lebih awal dari biasanya guna membangun cadangan stok saat hasil panen baru mulai berdatangan pada bulan Oktober. Namun, tanaman panen berikutnya itu pun masih menghadapi risiko dari cuaca yang tak menentu.
Tebu adalah tanaman yang sangat membutuhkan air. Curah hujan monsun yang tidak merata dan periode kering yang berkepanjangan di negara-negara bagian penghasil utama seperti Maharashtra, Uttar Pradesh, dan Karnataka telah merusak tanaman. Hasil panen diperkirakan bakal menurun, sementara batang tebu yang lebih tipis dengan kandungan sukrosa yang lebih rendah berarti makin sedikit gula yang dapat dihasilkan.
"Melihat kondisi iklim saat ini, musim depan juga diperkirakan tidak akan menghasilkan panen raya, meskipun masih terlalu dini untuk membuat penilaian pasti," kata Chaturvedi.
India memang sering membatasi ekspor komoditas pertanian ketika pasokan dalam negeri mengetat dan harga melambung. Pada 2023, misalnya, pemerintah melarang ekspor beras putih non-basmati selama lebih dari satu tahun setelah kerusakan tanaman memicu kenaikan harga pangan.
Akan tetapi, para ahli menyebut kegagalan dalam mengantisipasi defisit gula sebelum memberikan izin ekspor telah menimbulkan pertanyaan besar mengenai keakuratan perkiraan pemerintah.
"Tahun ini, proyeksi awal produksi tebu tidak terwujud akibat cuaca yang tak biasa di beberapa wilayah serta serangan penyakit pada varietas tertentu," ungkap Siraj Hussain, mantan sekretaris di Kementerian Pertanian Federal.
Pemerintah sejauh ini belum memberikan penjelasan mengenai alasan mengapa besarnya angka defisit tersebut tidak teridentifikasi sebelum kebijakan ekspor dihentikan pada 13 Mei. Pemerintah hanya menyatakan bahwa produksi jatuh di bawah estimasi akibat serangan penyakit tanaman tebu dan genangan air yang disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi.
