Harga Kedelai Naik, Pedagang Pilih Iris Tipis Tempe
·waktu baca 3 menit

Kenaikan harga kedelai membuat sejumlah pedagang tempe di pasar tradisional Jakarta memutar otak agar harga jual tetap terjangkau. Salah satu caranya dengan mengecilkan ukuran tempe yang dijual kepada pembeli.
Mukhlis, pedagang tempe di Pasar Palmerah, Jakarta, mengaku memotong ukuran tempe kisaran 2 centimeter (cm) karena harga kedelai impor yang sebelumnya sekitar Rp 9.000 per kilogram, kini telah menembus lebih dari Rp 10.000 per kilogram.
“Kedelainya impor. lya itu sepengetahuan saya karena rupiah juga. Apalagi plastik ini, (lagi) naik,” kata Mukhlis saat ditemui kumparan di Pasar Palmerah, Selasa (19/5).
Mukhlis mengatakan harga plastik naik dan rupiah melemah membuat biaya pembelian kedelai dalam jumlah besar ikut melonjak. Ia mencontohkan untuk 1 kuintal kedelai, biaya yang sebelumnya sekitar Rp 900 ribu kini menjadi lebih dari Rp 1 juta.
“Nggak saya naikin harga jualnya. Kalau pembeli kan, namanya orang bakal makan, pasti belanja,” tutur Mukhlis.
Mukhlis kini menjual tempe di Rp 10.000 per potong dan tahu mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kantong, bergantung isi tahunya. “Rugi sih enggak (dengan harga segitu). Tapi mau gimana,” kata Mukhlis.
Sementara di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, pedagang yang enggan menyebutkan namanya juga melakukan hal yang sama dengan Mukhlis. Ia rela memotong ukuran tempe menjadi 2 cm hingga 3 cm agar harga tetap dijual dengan harga normal.
“Tempe (dijual) Rp 10.000. Emang mahal dari sananya. Kedelai kan impor dari Argentina,” kata pedagang tersebut.
Ia belum bisa memprediksi apakah harga bahan baku tempe akan semakin naik imbas rupiah yang sedang melemah, Namun, ia memastikan tidak akan menaikkan harga jual kepada pembeli.
“Ya kurang tahu apa bakal naik lagi karena rupiah, tapi saya sih gak bakal naikkin harga. Soalnya pasti nanti gak ada yang beli kalau mahal,” kata pedagang tersebut.
Sama dengan Mukhlis, pedagang di Pasar Kebayoran menjual tempe dengan harga Rp 10.000 per potong dengan tempe dijual Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kantong.
Harga Daging Sapi Naik Jelang Idul Adha
Sementara itu, pedagang daging sapi di dua pasar yang sama juga mengeluhkan harga daging sapi potong yang naik. Safik, pedagang di Pasar Palmerah menyatakan harga daging sapi potong saat ini mengalami kenaikan sekitar Rp 20.000.
“Dari Rp 130.000 sampai Rp 150.000, berarti naik 20 ribuan,” kata Safik.
Menurutnya, kenaikan harga sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Sapi yang dijual Safik berasal dari pasokan lokal dan impor.
Untuk sapi impor, harga disebut ikut terdampak pelemahan rupiah karena pemasok membeli menggunakan mata uang dolar AS. Safik mengatakan, harga sapi impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp 80.000, kini naik menjadi sekitar Rp 100.000 per kemasan.
“Tapi naiknya bukan karena dolar doang, kayaknya dari pemasoknya juga sapi nya lagi langka,” ungkap Safik.
Sama dengan Safik, Huda yang memiliki lapak di Pasar Kebayoran juga mengatakan harga daging sapi potong di kisaran Rp 150.000 per kg. Namun, ia belum yakin apakah kenaikan harga tersebut ada hubungannya dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini.
“Kalau naik mah mungkin bisa jadi karena bentar lagi Idul Adha. Itu bisa naik lagi mungkin,” kata Huda.
