Kumparan Logo

Harga Komoditas: Batu Bara, Timah, Nikel Turun Lagi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi batu bara Foto: Kurtdeiner/pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi batu bara Foto: Kurtdeiner/pixabay

Harga komoditas terpantau kembali melemah pada penutupan perdagangan Rabu (29/7). Pelemahan terjadi pada batu bara, nikel, dan timah.

Batu Bara

Berdasarkan situs tradingeconomics, harga batu bara kembali menunjukkan tren melemah, turun 0,04 persen ke level USD 130,20 per ton.

Harga batu bara termal bertahan di kisaran USD 130 per ton pada akhir Juli, mendekati level tertinggi dalam sebulan. Penguatan harga didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari Indonesia akibat cuaca kering yang menghambat pengangkutan batu bara di Sungai Barito, Kalimantan.

Selain itu, kenaikan harga minyak di tengah ketegangan di Timur Tengah turut menopang pasar energi. Meski demikian, kenaikan harga batu bara masih tertahan oleh lemahnya permintaan dari China yang masih memiliki persediaan melimpah dan membatasi impor.

Nikel

Adapun harga nikel juga terpantau mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan London Metal Exchange (LME), harga nikel meningkat 0,98 persen menjadi USD 17.137 per ton.

Timah

Ilustrasi timah. Foto: PT Timah

Harga timah pada periode perdagangan yang sama, berdasarkan data dari London Metal Exchange (LME), menunjukkan adanya peningkatan 0,56 persen. Dengan begitu, kini harga timah ada pada level USD 53.882 per ton.

CPO

Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) meningkat tipis pada penutupan perdagangan Rabu (29/7). Berdasarkan situs tradingeconomics, harga CPO naik 0,47 persen menjadi MYR 4.664 per ton.

Harga minyak sawit berjangka di Malaysia kembali menguat dan diperdagangkan di atas MYR 4.650 per ton setelah pulih dari pelemahan dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini didorong oleh kenaikan harga minyak sawit di Bursa Dalian dan minyak kedelai di Chicago yang turut memperbaiki sentimen pasar. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah akibat turunnya persediaan minyak di Amerika Serikat juga meningkatkan permintaan biodiesel.

Sementara itu, impor minyak sawit India diperkirakan akan meningkat pada periode Juli hingga Oktober karena pasokan minyak nabati yang terbatas menjelang musim liburan, sehingga mendorong permintaan.

Ilustrasi lahan kelapa sawit. Foto: Bloomberg Creative/Getty Images

Di Indonesia yang merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia, pemerintah tengah berupaya menjaga daya saing ekspor dengan bernegosiasi kepada Amerika Serikat agar produk minyak sawit dibebaskan dari tarif baru sebesar 10 persen.

Meski demikian, penguatan harga minyak sawit masih terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh nilai tukar ringgit Malaysia yang menguat, sehingga membuat harga menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Selain itu, impor minyak sawit Uni Eropa pada tahun pemasaran 2026/2027 yang dimulai sejak Juli tercatat turun 39 persen secara tahunan menjadi hanya 0,13 juta ton juga turut menekan potensi kenaikan harga.