Harga Komoditas Melejit, Kapuas Prima Coal Genjot Penjualan Bijih Besi
·waktu baca 3 menit

Melejitnya harga berbagai komoditas global menguntungkan produsen tambang. Salah satunya, PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC), produsen base metal yang selama ini menambang bijih besi hingga seng.
Direktur ZINC Evelyne Kioe mengatakan, selain harga komoditas yang melejit, permintaan bijih besi dan logam dasar terutama untuk konsentrat timbal dan seng dari berbagai negara juga meningkat. Kondisi ini akan dimanfaatkan perusahaan dengan menggenjot produksi dan penjualan.
"Peluang ini akan turut mendorong kinerja ZINC hingga akhir tahun yang ditargetkan mencapai sekitar Rp 1,2 triliun," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (21/3).
Salah satu komoditas ZINC yang ditargetkan dapat memberikan peningkatan kontribusi penjualan di tahun ini yaitu dari bijih besi. Dengan harga bijih besi yang saat ini berada di kisaran USD 145-155 per ton (kadar Fe 62 persen).
Pada tahun ini, ZINC menargetkan dapat menjual bijih besi sekitar 180.000 ton, dengan target kontribusi pendapatan dari bijih besi dapat mencapai 18-20 juta USD, atau meningkat sekitar 45 persen dibandingkan kontribusi di tahun sebelumnya. Perusahaan memiliki cadangan mineral bijih besi mencapai 23 juta ton yang belum dieksploitasi.
"Dengan adanya kenaikan harga dan permintaan yang stabil, perseroan akan menggencarkan penambangan bijih besi dalam skala besar untuk target penjualan ke pasar domestik," lanjutnya.
Selain bijih besi, pada tahun ini ZINC juga akan menggencarkan produksi dan penjualan untuk konsentrat timbal (Pb) dan seng (Zn). Dengan total area eksplorasi ZINC yang mencapai sekitar 1.600 Ha dari total luas area pertambangan Perusahaan sebesar 5.569 Ha, ZINC akan terus meningkatkan kapasitas produksi dengan target mencapai sebesar 550 ribu hingga 642 ribu ton ore.
Dari pantauan ZINC, harga komoditas timbal (Pb) dan Perak saat ini cenderung stabil jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sementara untuk komoditas seng (Zn) telah mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan.
"Apabila harga komoditas dapat bertahan di kisaran USD 3.500 per ton, maka dapat memberikan kontribusi berupa tambahan terhadap laba. Namun apabila harga komoditas terus bergerak fluktuatif, dapat memberikan pengaruh terhadap biaya produksi perseroan," kata Evelyne.
Di samping itu, ZINC optimis di tahun ini dapat mencatatkan kinerja yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini juga didukung oleh potensi peningkatan pendapatan dari smelter timbal ZINC yang sudah mulai beroperasi di tahun ini. Smelter timbal milik perseroan merupakan smelter timbal pertama dan satu-satunya yang ada di Indonesia saat ini.
Dia berharap kondisi ekonomi maupun politik global kembali pulih dan kondusif, dan tidak berkepanjangan, sehingga kegiatan usaha baik di dalam negeri maupun global bisa kembali berjalan dengan baik, seiring dengan kondisi pandemi yang semakin terkendali.
"Dengan demikian, kinerja industri akan kembali bangkit dan tentunya kami juga berharap kinerja ZINC dapat semakin membaik ke depannya,” tutup Evelyne.
