Harga Kopi Makin Mahal, Tarif Trump dan Krisis Iklim Jadi Biang Keladi
27 Oktober 2025 6:38 WIB
·
waktu baca 5 menit
Harga Kopi Makin Mahal, Tarif Trump dan Krisis Iklim Jadi Biang Keladi
Harga kopi dunia kian meroket. Kekeringan ekstrem yang melanda Brasil jadi penyebab, disusul perang dagang yang digaungkan Trump.kumparanBISNIS

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data resmi pemerintah AS, rata-rata harga kopi bubuk di AS mencapai USD 9,14 per 500 gram pada September 2025, naik 3 persen dibandingkan rata-rata Agustus sebesar USD 8,87 dan melonjak 41 persen dibandingkan September 2024.
Harga kopi ritel juga telah meningkat tajam sejak awal tahun ini. Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat lalu, harga makanan yang dikonsumsi di rumah maupun di luar rumah naik 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Indeks harga konsumen (CPI) untuk produk kopi, termasuk kopi instan, menunjukkan kenaikan 19 persen dibanding September 2024, meskipun stabil dibanding bulan Agustus.
Dikutip dari AFP, Senin (27/10), kenaikan harga ini juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha kopi di tingkat ritel. Nikki Bravo, pemilik bersama Momentum Coffee di Chicago, mengaku baru saja menaikkan harga minuman seperti latte, cappuccino, dan menu berbasis espresso lainnya sekitar 15 persen pekan lalu di empat gerai miliknya.
ADVERTISEMENT
Bravo mengatakan, biaya pembelian biji kopi naik sekitar 15 persen dibanding tahun lalu, sehingga ia mulai memanggang sebagian bijinya sendiri untuk menekan biaya. Sebagian besar biji kopi yang digunakannya berasal dari Afrika.
Tak hanya bahan baku, harga perlengkapan seperti gelas dan pelindung cangkir juga ikut naik. Selain itu, kenaikan upah minimum di Chicago menjadi USD 16,60 per jam sejak 1 Juli menambah beban operasional kafe
Kenaikan ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dalam sepekan terakhir, harga kopi di pasar berjangka kembali melonjak seiring menipisnya stok biji kopi Brasil di AS, terendah sejak 2020. Ancaman Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif terhadap Kolombia, salah satu eksportir besar lainnya, makin mendongkrak harga kopi.
ADVERTISEMENT
Di balik tensi politik dagang tersebut, ternyata faktor lain yang lebih mendasar dan jangka panjang yaitu perubahan iklim.
Kekeringan dan Produksi yang Menurun
Wilayah penghasil kopi utama di Brasil, seperti negara bagian Minas Gerais, tengah dilanda kekeringan ekstrem. Berdasarkan data analisis cuaca Bloomberg Brazil Weather, dalam sebulan terakhir, curah hujan di wilayah ini hanya sekitar 70 persen dari rata-rata normal, bahkan minggu lalu hanya mencapai setengah dari rerata historis.
“Krisis iklim masih jadi faktor utama. Tarif hanyalah lapisan tambahan. Faktor strukturalnya tetap pada pasokan yang semakin ketat," kata Fernando Maximiliano, manajer intelijen pasar kopi di jaringan jasa keuangan StoneX, dikutip dari Bloomberg, Senin (27/10).
Sejak Agustus, harga futures untuk jenis arabika, varietas unggulan yang banyak ditanam di Brasil, naik hampir 40 persen dan mendekati rekor tertinggi. Sementara harga robusta, yang biasa digunakan untuk kopi instan, melonjak sekitar 37 persen.
ADVERTISEMENT
Brasil menyumbang hampir 40 persen dari produksi kopi dunia. Namun, sejak 2020 negara ini terus dilanda kekeringan yang membuat pasokan global tak mampu mengejar permintaan. Para analis memperkirakan keseimbangan baru akan tercapai bukan karena produksi meningkat, melainkan karena konsumen mulai mengurangi konsumsi akibat harga yang mahal.
Upaya Pemulihan dan Negosiasi Dagang
Badan Pasokan Nasional Brasil (Conab) menyebut hujan baru-baru ini diharapkan bisa membantu mengurangi stres pada tanaman akibat kekeringan sebelumnya.
Di sisi lain, Presiden Trump dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva telah membuka pembicaraan untuk menghapus tarif terhadap produk Brasil, termasuk kopi. Jika tercapai, kesepakatan ini bisa menurunkan harga kopi di pasar AS seiring masuknya kembali pasokan dari Brasil.
Meski demikian, tekanan harga jangka panjang tampaknya tak terelakkan. Para ilmuwan memperkirakan bahwa akibat perubahan iklim, hanya sekitar 50 persen dari wilayah penghasil kopi saat ini yang masih layak tanam pada 2050.
Negara-negara produsen kopi seperti Brasil dan Uganda mulai mempersiapkan diri. Para peneliti di Brasil kini memetakan wilayah baru yang memiliki suhu lebih sejuk dan curah hujan cukup untuk ditanami kopi.
ADVERTISEMENT
Mereka juga tengah mengembangkan teknik perlindungan tanaman terhadap panas dan kekeringan, termasuk melalui cloning untuk menciptakan varietas yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
“Brasil beruntung memiliki beragam kondisi alam yang mendukung. Kami bisa menemukan berbagai wilayah yang cocok untuk budidaya kopi, bahkan di tengah perubahan iklim," kata Kleber Santos, auditor pajak di Kementerian Pertanian Brasil.
Biaya Produksi Naik karena Adaptasi
Kopi arabika, yang memiliki harga tertinggi di pasar, justru paling rentan terhadap perubahan iklim dibanding robusta yang lebih tahan panas. Namun, kedua varietas sama-sama bergantung pada curah hujan yang stabil.
Andrea Illy, Ketua IllyCaffè SpA asal Italia, memperkirakan saat ini kurang dari 10 persen lahan kopi di dunia yang menggunakan irigasi. Ke depan, ia menilai porsi itu perlu meningkat hingga sepertiga agar produksi bisa bertahan terhadap tren iklim dan permintaan yang terus meningkat.
Namun, adaptasi semacam itu tentu membutuhkan biaya tambahan—mulai dari investasi pada teknologi pertanian baru, pupuk, hingga sistem pemanenan yang lebih efisien.
ADVERTISEMENT
“Kalau iklim berubah, kita harus belajar beradaptasi. Kita tak bisa terus menciptakan kebutuhan baru tanpa memperhitungkan keberlanjutan lingkungan," terang Daniel El Chami, Direktur Strategi Keberlanjutan di TIMAC AGRO International.
