Kumparan Logo

Harga Minyak Anjlok Lebih dari 4%, Pasar Menanti Kemajuan Perdamaian Iran-AS

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/Shutterstock

Harga minyak turun pada Senin (21/9) ke level terendah dalam 12 hari terakhir, seiring pasar berharap adanya kemajuan diplomatik dalam perang Iran dalam pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini. Selain itu, pasar juga mencermati pemulihan sebagian pengiriman minyak dari Arab Saudi.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November ditutup turun USD 3,53 atau 3,4 persen menjadi USD 100,34 per barel.

Sementara itu, kontrak WTI Oktober yang akan berakhir pada Selasa (22/9) turun USD 4,52 atau 4,51 persen menjadi USD 95,78 per barel. Kontrak November berada di level USD 92,47 per barel. Kedua harga acuan minyak itu turun ke level terendah sejak 9 September.

Pada Minggu (20/9), Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali saling melontarkan ancaman. Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan berada di New York pekan ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

Pasar pun menaruh harapan pada terobosan dalam perundingan perdamaian pekan ini, kata analis PVM Oil Associates, Tamas Varga.

“Hanya beberapa hari lalu, hal itu mungkin terdengar seperti gagasan yang sangat jauh dari kenyataan. Ini merupakan langkah ke arah yang benar,” kata Direktur Energy Futures di Mizuho, Bob Yawger.

Berdasarkan laporan Al Jazeera yang mengutip Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei, Iran telah menyampaikan persyaratannya kepada para mediator untuk kembali terlibat dalam perundingan. Pertempuran di Timur Tengah masih berlanjut.

Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengatakan telah menyerang Riyadh serta fasilitas Saudi Aramco di kota Yanbu, Laut Merah. Kelompok itu juga berupaya membatasi wilayah pesisir Laut Merah dari area lain yang masih dikuasai pasukan yang didukung Arab Saudi.

Menurut tiga sumber Iran yang mengetahui persoalan ini, China telah meminta Iran membantu menekan kelompok Houthi setelah Arab Saudi meminta bantuan Beijing menyusul serangkaian serangan tersebut.

Serangan Houthi terhadap jaringan pipa Aramco East-West ini mendorong perusahaan tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada bulan ini dan bulan depan, setelah menghentikan sebagian pengiriman melalui Yanbu. Ekspektasi terhadap pemulihan sebagian pengiriman minyak dari Arab Saudi turut menekan harga minyak.

Data pelacakan kapal tanker menunjukkan Saudi Aramco memuat sekitar 14 juta barel minyak mentah ke tujuh supertanker di wilayah Teluk Timur Tengah pada Minggu (20/9).

Kemudian, data satelit juga menunjukkan arus minyak Arab Saudi yang melewati Selat Hormuz rata-rata mencapai 2,9 juta barel per hari dalam enam hari terakhir, naik dari hanya 700.000 barel per hari pada Agustus.

Sementara itu, Chairman National Oil Corp Libya Massoud Suleman mengatakan kepada Reuters pada Senin (21/9) bahwa produksi di ladang minyak Sharara mengalami penurunan sebagian. Ia pun tidak menjelaskan penyebab penurunan produksi tersebut.