Kumparan Logo

Harga Minyak Dunia Tembus USD 100/Barel, Pasokan Timur Tengah Masih Terganggu

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Produksi Minyak Mentah Brent. Foto: Scott Heppel/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Produksi Minyak Mentah Brent. Foto: Scott Heppel/AFP

Harga minyak dunia menembus level USD 100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9). Ini menjadi kali pertama dalam enam pekan harga minyak berada di atas level tersebut.

Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini juga meningkatkan risiko inflasi serta kenaikan biaya energi bagi konsumen dan pelaku usaha.

Dikutip dari Reuters, Kamis (10/9), harga minyak Brent sebagai patokan global telah naik sekitar 25 persen sejak awal Agustus. Kenaikan tersebut terjadi di tengah memudarnya harapan terhadap penyelesaian konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama enam bulan.

Harga minyak semakin naik dalam sepekan terakhir setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah instalasi minyak terbakar dan meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan meluas ke kawasan Teluk.

Kondisi ini membuat pasar minyak global semakin rentan. Pasalnya, pasokan telah berkurang selama berbulan-bulan akibat terganggunya ekspor minyak melalui Selat Hormuz serta menurunnya persediaan minyak di sejumlah negara konsumen utama.

"Investor minyak menunjukkan pandangan mereka terhadap dampak eskalasi terbaru di Timur Tengah dengan sangat jelas," kata Tamas Varga dari perusahaan pialang minyak PVM.

Menurut Tamas, pasokan minyak global masih akan menghadapi tekanan selama Selat Hormuz belum kembali normal. Jika aliran minyak melalui jalur tersebut belum lancar, pasokan berisiko tidak mampu memenuhi permintaan dalam waktu dekat.

Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Harga minyak Brent memang masih berada di bawah level tertingginya selama konflik, yakni sekitar USD 126 per barel pada April lalu. Namun, Namun, kenaikan hingga menembus USD 100 per barel dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan manufaktur, sekaligus kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi, serta potensi bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama

Amerika Serikat bahkan telah menggunakan cadangan minyak strategisnya dalam jumlah besar. Cadangan tersebut kini berada di level terendah sejak 1982, dengan persediaan sekitar 289,7 juta barel.

Badan Energi Internasional (IEA) pada Maret lalu mengumumkan pelepasan 400 juta barel dari cadangan minyak darurat untuk membantu menjaga pasokan global. Sekitar tiga perempat dari jumlah tersebut telah dikeluarkan.

Sementara data perusahaan yang memantau pengiriman minyak, Vortexa, memperkirakan sekitar 10 juta bph atau sekitar 10 persen dari permintaan minyak dunia masih hilang akibat konflik Iran.

Sejumlah negara seperti AS, Kanada, dan Guyana juga telah meningkatkan produksi minyak. Namun, IEA memperkirakan pasokan minyak global tetap akan turun sekitar 4,3 juta barel per hari (bph) tahun ini atau sekitar 4 persen.

Jeffrey Currie, Co-Chairman Abaxx Markets, menilai kenaikan harga minyak saat ini bukan sekadar gejolak sementara.

“Menurut saya, pasar mencoba menganggap kenaikan harga energi ini sebagai kejadian sesaat. Padahal bukan. Ini bersifat struktural. Kondisi ini tidak akan hilang dan merupakan bagian dari apa yang saya sebut sebagai premi keamanan. Dan nilainya akan terus meningkat,” ujar Jeffrey.