Harga Minyak Kembali Menguat di Tengah Kebuntuan Negosiasi Selat Hormuz

Harga minyak dunia melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan awal pekan, sementara indeks berjangka saham Amerika Serikat (AS) relatif stabil menjelang kabar terbaru soal perundingan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, diperdagangkan di atas level USD 84 per barel pada pembukaan pasar, Senin (10/8), setelah sebelumnya melonjak lebih dari 5 persen dalam tiga sesi perdagangan terakhir. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3 persen ke USD 79,22 per barel.
Untuk kontrak berjangka indeks S&P 500 bergerak nyaris datar setelah indeks acuan tersebut ditutup menguat 0,6 persen pada Jumat lalu dan mencetak rekor tertinggi baru. Nilai tukar dolar AS pun relatif stabil terhadap mata uang utama dunia.
Iran dan Oman dikabarkan masih belum mencapai kesepakatan akhir untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz hingga akhir pekan. Teheran bahkan kembali menegaskan sejumlah tuntutan besar kepada Washington sebagai syarat pembukaan penuh selat tersebut pada Sabtu lalu, sinyal bahwa kelegaan bagi pasokan minyak dan gas global kemungkinan masih akan tertunda.
Meski begitu, Presiden AS Donald Trump pada Minggu menunjukkan sikap yang lebih sabar. Dalam wawancara dengan Axios, ia menyatakan AS bisa saja menunggu hingga tekanan ekonomi membuat Iran melunak. Pernyataan ini muncul setelah berminggu-minggu Trump sempat mengancam serangan udara besar-besaran ke Iran, namun kemudian menahan diri dengan alasan ingin memberi ruang bagi jalur diplomasi.
My Bui, ekonom dari AMP Ltd., menilai investor tidak perlu terlalu pesimistis karena Trump kemungkinan besar akan kembali mengurungkan ancamannya, terutama di tengah tingkat persetujuan publik terhadapnya yang tengah berada di titik terendah. Menurutnya, kondisi pasar saat ini masih berjalan normal, dengan saham yang tetap ditopang fundamental ekonomi yang solid, pertumbuhan yang kuat, dan peningkatan produktivitas.
