Kumparan Logo

Harga Minyak Mentah Dunia Turun, Pasar Cermati Potensi Lonjakan Produksi OPEC+

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Artem Oleshko/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Artem Oleshko/Shutterstock

Harga minyak mentah ditutup menurun pada Selasa (30/9), seiring investor bersiap menghadapi potensi surplus pasokan. Hal ini dipicu oleh rencana OPEC+ yang kemungkinan akan menaikkan produksi lebih besar bulan depan dan dimulainya kembali ekspor minyak dari wilayah Kurdistan, Irak, melalui Turki.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November, yang berakhir pada Selasa (1/10), turun 95 sen atau 1,4 persen menjadi USD 67,02 per barel. Kontrak Desember yang lebih aktif ditutup di level USD 66,03. Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada USD 62,37 per barel, turun 1,08 dolar AS atau 1,7 persen.

Sehari sebelumnya, baik Brent maupun WTI mencatat penurunan lebih dari 3 persen, menjadi pelemahan harian terdalam sejak 1 Agustus.

Dalam pertemuan hari Minggu mendatang, OPEC+ diperkirakan akan mempercepat peningkatan produksi untuk November dari tambahan 137.000 barel per hari (bph) yang ditetapkan untuk Oktober, seiring dorongan Arab Saudi untuk merebut kembali pangsa pasar, menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Delapan anggota OPEC+ dapat menyepakati kenaikan produksi sebesar 274.000 hingga 411.000 bph pada November, atau dua hingga tiga kali lipat dari peningkatan Oktober. Salah satu sumber bahkan menyebut kenaikan bisa mencapai 500.000 bph.

Laporan Bloomberg pada Selasa (1/10) pagi juga menyebut OPEC+ mempertimbangkan akselerasi produksi sebesar 500.000 bph. Namun, OPEC dalam pernyataannya di platform X membantah laporan media tersebut dan menyebutnya tidak akurat dan menyesatkan.

“Strategi OPEC+ ini bisa menekan margin produsen shale oil AS yang berbiaya tinggi, sehingga berpotensi memaksa mereka memangkas rekor produksi yang selama ini dipertahankan,” kata analis StoneX, Alex Hodes.

Sementara itu, minyak mentah mulai mengalir pada Sabtu (27/9) lalu melalui pipa dari wilayah semi-otonom Kurdistan di Irak utara menuju Turki untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun, setelah tercapainya kesepakatan sementara yang mengakhiri kebuntuan, menurut Kementerian Minyak Irak.

“Harga minyak tertekan karena pasar mengantisipasi keputusan OPEC+ untuk mengembalikan tambahan pasokan minyak ke pasar, ditambah dimulainya kembali ekspor minyak dari Kurdistan. Kedua faktor ini membuat pasokan meningkat dan menekan harga,” ujar Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow.

Pasar tetap berhati-hati dalam beberapa pekan terakhir, menimbang risiko pasokan, terutama akibat serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia dengan ekspektasi kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mendapat dukungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk proposal perdamaian Gaza yang diusung AS, meski sikap Hamas masih belum jelas. Dalam skenario ideal, lalu lintas pengiriman melalui Terusan Suez dapat kembali normal setelah tercapai kesepakatan damai Gaza, yang akan mengurangi premi risiko geopolitik secara signifikan, ujar analis PVM, Tamas Varga.

Menurut catatan analis ANZ, sentimen bearish juga diperkuat oleh potensi penutupan pemerintahan AS yang meningkatkan kekhawatiran permintaan.

Produksi minyak mentah AS naik ke rekor bulanan baru sebesar 13,64 juta bph pada Juli, naik 109.000 bph dibandingkan rekor sebelumnya pada Juni, menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) yang dirilis Selasa (1/10).

video from internal kumparan