Kumparan Logo

Harga Minyak Mentah Naik Tipis di Tengah Rencana OPEC+ Tahan Produksi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Artem Oleshko/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Artem Oleshko/Shutterstock

Harga minyak mentah bertahan stabil pada Senin (3/11), karena pasar menyeimbangkan peningkatan pasokan OPEC+ terbaru dengan rencana menghentikan sementara peningkatan produksi pada kuartal I 2026, seiring dengan kekhawatiran akan kelebihan pasokan minyak dan data pabrik yang lemah di Asia.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 12 sen, atau 0,2 persen menjadi USD 64,89 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 7 sen, atau 0,1 persen menjadi USD 61,05.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat pada Minggu untuk meningkatkan produksi sebesar 137.000 barel per hari (bph) pada Desember. OPEC+ juga sepakat untuk menghentikan sementara peningkatan produksi pada kuartal pertama tahun depan.

"Dampak negatif terhadap harga dari kelanjutan peningkatan produksi OPEC sebesar 137.000 barel per hari pada kuartal ini telah diimbangi oleh usulan kartel untuk menunda peningkatan produksi setelah akhir tahun ini," ujar analis di firma penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan.

Sementara itu, Morgan Stanley menaikkan perkiraan minyak mentah Brent untuk paruh pertama tahun 2026 menjadi USD 60 per barel dari USD 57,50, mengutip keputusan OPEC+ untuk menghentikan sementara kenaikan kuota pada kuartal I 2026 dan aset minyak Rusia baru-baru ini.

Bulan lalu, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasar minyak global menghadapi surplus hingga 4 juta barel per hari tahun depan. OPEC memperkirakan pasokan dan permintaan minyak global akan seimbang tahun depan.

Para CEO perusahaan minyak Eropa pada sebuah konferensi di Abu Dhabi memperingatkan agar tidak bersikap terlalu pesimis terhadap minyak.

Analis di RBC, bank Kanada, mengatakan Rusia tetap menjadi kartu pasokan yang tidak menentu setelah sanksi AS terhadap produsen Rusia Rosneft dan Lukoil serta serangan terhadap infrastruktur energi.

Di sisi lain, hambatan bagi pusat-pusat manufaktur besar di Asia masih berlanjut pada bulan Oktober, menurut survei bisnis yang dirilis pada Senin. Asia adalah kawasan konsumen minyak terbesar di dunia.

Pertumbuhan permintaan minyak China melambat sejak 2020 seiring negara tersebut beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan, menurut perusahaan minyak besar TotalEnergies, kata CEO Patrick Pouyanne. Ia mengatakan tetap optimistis dalam jangka panjang karena meningkatnya permintaan di India.