Kumparan Logo

Harga Minyak Naik 2% ke USD 107/Barel, Bursa Saham Jepang-Korsel Cetak Rekor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Foto: Shutterstock

Pasar global memulai awal pekan dengan dinamika yang kontras antara lonjakan harga energi dan optimisme di sektor teknologi yang membuat bursa saham naik. Kenaikan harga minyak akibat mandeknya pembicaraan damai di Iran terjadi bersamaan dengan reli saham teknologi, khususnya perusahaan chip, yang terdorong oleh antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI).

Harga minyak mentah jenis Brent naik sekitar 2 persen dan sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan di kisaran USD 107,97 per barel pada perdagangan Asia, Senin (27/4). Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, terutama karena minimnya aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global dan membuat pelaku pasar mulai mengesampingkan harapan pemangkasan suku bunga di negara maju tahun ini. Goldman Sachs bahkan menaikkan proyeksi harga minyak akhir tahun dari USD 80 menjadi USD 90 per barel.

“Kenaikan harga yang tidak linier kemungkinan terjadi jika persediaan turun ke level kritis, sesuatu yang belum pernah kita lihat dalam beberapa dekade terakhir," kata analis Goldman Sachs dikutip dari Reuters, Senin (27/4).

Bursa Saham Merangkak Naik

Di sisi lain, pasar saham global justru mendapat dorongan dari sektor teknologi. Saham-saham chip melonjak mengikuti tren optimisme terhadap belanja AI, setelah sebelumnya laporan kinerja Intel melampaui ekspektasi pasar.

Warga berjalan di dekat papan informasi harga saham yang menampilkan indeks saham Nikkei di luar sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang, Senin (9/3/2026). Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS

Bursa saham di Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan mencatatkan rekor tertinggi baru, mengikuti penguatan Wall Street. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 naik tipis sekitar 0,2 persen di sesi Asia.

Manajer portofolio senior Allianz Technology Trust, Mike Seidenberg, mengatakan tren AI masih menjadi pendorong utama pasar. “AI adalah sesuatu yang sangat diunggulkan oleh pasar dan dianggap sebagai pemenang utama. Ini menjadi porsi terbesar dalam portofolio,” ujarnya.

Pelaku pasar kini juga menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, termasuk Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, dan Apple, yang diperkirakan akan memberikan gambaran lebih lanjut terkait belanja AI ke depan.

Di pasar mata uang, pergerakan relatif stabil dengan euro di level USD 1,1724 dan yen Jepang di kisaran 159,32 per USD. Pasar obligasi juga cenderung tenang menjelang rangkaian rapat bank sentral utama pekan ini.

Bank sentral seperti Bank of Japan, Federal Reserve, Bank of England, dan Bank Sentral Eropa diperkirakan akan menahan suku bunga. Namun, arah kebijakan ke depan tetap menjadi perhatian, terutama terkait potensi kenaikan suku bunga lanjutan di Eropa dan Inggris.

Sementara itu, harapan akan meredanya konflik sempat muncul setelah laporan menyebut Iran membuka peluang kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, meski pembicaraan nuklir ditunda.

Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, arah kebijakan moneter, dan euforia teknologi, pasar global diperkirakan akan tetap bergerak volatil sepanjang pekan ini.

instagram embed