Kumparan Logo

Harga Minyak Sudah Turun Sebulan Terakhir, Kenapa Jokowi Tetap Naikkan BBM?

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

Menteri Keuangan Sri Mulyani mendampingi Presiden Jokowi menyaksikan vaksinasi karyawan industri keuangan di BEI. Foto: Instagram/@smindrawati
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani mendampingi Presiden Jokowi menyaksikan vaksinasi karyawan industri keuangan di BEI. Foto: Instagram/@smindrawati

Presiden Jokowi baru saja menaikkan harga BBM Pertalite, Solar subsidi, dan Pertamax. Harga baru berlaku hari ini, Sabtu (3/9) pukul 14:30 WIB.

Pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 per liter, Solar dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Kenaikan harga BBM subsidi dan nonsubsidi ini diumumkan Jokowi bersama para menterinya di tengah tren harga minyak mentah yang turun sejak sebulan terakhir.

Dikutip dari Investing, harga minyak mentah jenis Brent per 2 September 2022 berada di level USD 93,26 per barel. Sedangkan per 3 Agustus 2022, harganya USD 96,78 per barel. Pun dengan harga minyak mentah jenis WTI per 2 September 2022 USD 87,12 per barel, sedangkan 3 Agustus 2022 USD 90,66 per barel.

embed from external kumparan
embed from external kumparan

Menteri Keuangan Sri Mulyani yang hadir dalam pengumuman harga BBM tadi siang mengatakan harga minyak mentah memang turun sejak sebulan terakhir, termasuk harga acuan di dalam negeri (Indonesian Crude Price/ICP) yang mengikuti harga minyak mentah global. Namun rata-rata masih di kisaran USD 90 per barel, sehingga pemerintah terus berhitung karena subsidi yang ditanggung masih tetap besar.

Seorang pekerja SPBU Pertamina mengubah harga BBM yang ditampilkan setelah pengumuman kenaikan harga BBM, di Bekasi, Sabtu (3/9/2022). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

"Masyarakat saat ini bertanya sebab harga minyak sebulan terakhir mengalami penurunan. Jadi, kami terus lakukan perhitungan dengan harga minyak turun ke USD 90 dolar sekalipun, maka subsidi masih akan terjadi," ujar dia.

Dalam hitungannya, jika harga ICP menyentuh USD 99 per barel atau turun ke level USD 90 per barel hingga Desember 2022, maka subsidi dan kompensasi energi masih akan membengkak menjadi Rp 653 triliun.

Namun jika harga ICP kembali turun menjadi USD 85 per barel hingga Desember 2022, maka kenaikan subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp 640 triliun. Angka ini juga masih mengalami kenaikan dari anggaran subsidi dan kompensasi yang sudah ditetapkan tahun ini Rp 502,4 triliun.

"Ini semua bergantung pada harga ICP. Perkembangan ICP akan terus kami monitor sebab suasana geopolitik dan suasana proyeksi dunia masih akan dinamis," ucapnya.

Harga BBM Tak Hanya Dipengaruhi ICP

Ilustrasi kilang minyak Foto: Reuters/Todd Korol

Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Wahyu Utomo mengatakan penurunan harga minyak dunia tidak berimbas pada penghematan anggaran subsidi dan kompensasi sektor energi yang senilai Rp 502,4 triliun pada tahun 2022.

"Ya, tidak (berpengaruh) lah. Kalau Indonesian Crude Price (ICP) turun, Brent turun, itu salah satu komponen yang mempengaruhi subsidi dan kompensasi. Kalau itu turun, ada potensi turun, tapi variabel lainnya naik. Jadi ya tidak (berpengaruh)," ujar Wahyu kepada kumparan, Sabtu (3/9).

Menurut Wahyu, ada tiga faktor yang mempengaruhi pembayaran untuk subsidi dan kompensasi energi, yaitu kurs nilai tukar rupiah, volume konsumsi, dan ICP. Ia menilai, walaupun harga minyak dunia turun, belum tentu realisasi anggaran ikut turun tanpa memperhatikan nilai tukar rupiah dan volume konsumsi.

"Kan yang dipengaruhi ada tiga, kurs, volume dan ICP. Bisa saja ICP turun, tapi yang lainnya belum tentu turun," kata dia.

Harga BBM Terbaru di SPBU Pertamina:

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 35 data

WILAYAH
PERTALITE
PERTAMAX
SOLAR JBT
Prov. Nanggroe Aceh Darussalam
10.000
14.500
6.800
Prov. Sumatera Utara
10.000
14.850
6.800
Prov. Sumatera Barat
10.000
14.850
6.800
Prov. Riau
10.000
15.200
6.800
Prov. Kepulauan Riau
10.000
15.200
6.800
Kodya Batam (FTZ)
10.000
15.200
6.800
Prov. Jambi
10.000
14.850
6.800
Prov. Bengkulu
10.000
15.200
6.800
Prov. Sumatera Selatan
10.000
14.850
6.800
Prov. Bangka-Belitung
10.000
14.850
6.800

1 - 10 dari 35 baris

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 35 data

WILAYAH
PERTAMAX TURBO
DEXLITE
PERTAMINA DEX
SOLAR NPSO
Prov. Nanggroe Aceh Darussalam
15.900
17.100
17.400
-
Prov. Sumatera Utara
16.250
17.450
17.750
-
Prov. Sumatera Barat
16.250
17.450
17.750
-
Prov. Riau
16.600
17.800
18.100
-
Prov. Kepulauan Riau
16.600
17.800
18.100
-
Kodya Batam (FTZ)
16.600
17.800
18.100
-
Prov. Jambi
16.250
17.450
17.750
-
Prov. Bengkulu
16.600
17.800
18.100
-
Prov. Sumatera Selatan
16.250
17.450
17.750
-
Prov. Bangka-Belitung
16.250
17.450
17.750
-

1 - 10 dari 35 baris