Harga Minyak Sudah Turun Sebulan Terakhir, Kenapa Jokowi Tetap Naikkan BBM?
ยทwaktu baca 3 menit

Presiden Jokowi baru saja menaikkan harga BBM Pertalite, Solar subsidi, dan Pertamax. Harga baru berlaku hari ini, Sabtu (3/9) pukul 14:30 WIB.
Pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 per liter, Solar dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.
Kenaikan harga BBM subsidi dan nonsubsidi ini diumumkan Jokowi bersama para menterinya di tengah tren harga minyak mentah yang turun sejak sebulan terakhir.
Dikutip dari Investing, harga minyak mentah jenis Brent per 2 September 2022 berada di level USD 93,26 per barel. Sedangkan per 3 Agustus 2022, harganya USD 96,78 per barel. Pun dengan harga minyak mentah jenis WTI per 2 September 2022 USD 87,12 per barel, sedangkan 3 Agustus 2022 USD 90,66 per barel.
Menteri Keuangan Sri Mulyani yang hadir dalam pengumuman harga BBM tadi siang mengatakan harga minyak mentah memang turun sejak sebulan terakhir, termasuk harga acuan di dalam negeri (Indonesian Crude Price/ICP) yang mengikuti harga minyak mentah global. Namun rata-rata masih di kisaran USD 90 per barel, sehingga pemerintah terus berhitung karena subsidi yang ditanggung masih tetap besar.
"Masyarakat saat ini bertanya sebab harga minyak sebulan terakhir mengalami penurunan. Jadi, kami terus lakukan perhitungan dengan harga minyak turun ke USD 90 dolar sekalipun, maka subsidi masih akan terjadi," ujar dia.
Dalam hitungannya, jika harga ICP menyentuh USD 99 per barel atau turun ke level USD 90 per barel hingga Desember 2022, maka subsidi dan kompensasi energi masih akan membengkak menjadi Rp 653 triliun.
Namun jika harga ICP kembali turun menjadi USD 85 per barel hingga Desember 2022, maka kenaikan subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp 640 triliun. Angka ini juga masih mengalami kenaikan dari anggaran subsidi dan kompensasi yang sudah ditetapkan tahun ini Rp 502,4 triliun.
"Ini semua bergantung pada harga ICP. Perkembangan ICP akan terus kami monitor sebab suasana geopolitik dan suasana proyeksi dunia masih akan dinamis," ucapnya.
Harga BBM Tak Hanya Dipengaruhi ICP
Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Wahyu Utomo mengatakan penurunan harga minyak dunia tidak berimbas pada penghematan anggaran subsidi dan kompensasi sektor energi yang senilai Rp 502,4 triliun pada tahun 2022.
"Ya, tidak (berpengaruh) lah. Kalau Indonesian Crude Price (ICP) turun, Brent turun, itu salah satu komponen yang mempengaruhi subsidi dan kompensasi. Kalau itu turun, ada potensi turun, tapi variabel lainnya naik. Jadi ya tidak (berpengaruh)," ujar Wahyu kepada kumparan, Sabtu (3/9).
Menurut Wahyu, ada tiga faktor yang mempengaruhi pembayaran untuk subsidi dan kompensasi energi, yaitu kurs nilai tukar rupiah, volume konsumsi, dan ICP. Ia menilai, walaupun harga minyak dunia turun, belum tentu realisasi anggaran ikut turun tanpa memperhatikan nilai tukar rupiah dan volume konsumsi.
"Kan yang dipengaruhi ada tiga, kurs, volume dan ICP. Bisa saja ICP turun, tapi yang lainnya belum tentu turun," kata dia.
Harga BBM Terbaru di SPBU Pertamina:
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 35 data
WILAYAH | PERTALITE | PERTAMAX | SOLAR JBT |
|---|---|---|---|
Prov. Nanggroe Aceh Darussalam | 10.000 | 14.500 | 6.800 |
Prov. Sumatera Utara | 10.000 | 14.850 | 6.800 |
Prov. Sumatera Barat | 10.000 | 14.850 | 6.800 |
Prov. Riau | 10.000 | 15.200 | 6.800 |
Prov. Kepulauan Riau | 10.000 | 15.200 | 6.800 |
Kodya Batam (FTZ) | 10.000 | 15.200 | 6.800 |
Prov. Jambi | 10.000 | 14.850 | 6.800 |
Prov. Bengkulu | 10.000 | 15.200 | 6.800 |
Prov. Sumatera Selatan | 10.000 | 14.850 | 6.800 |
Prov. Bangka-Belitung | 10.000 | 14.850 | 6.800 |
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 35 data
WILAYAH | PERTAMAX TURBO | DEXLITE | PERTAMINA DEX | SOLAR NPSO |
|---|---|---|---|---|
Prov. Nanggroe Aceh Darussalam | 15.900 | 17.100 | 17.400 | - |
Prov. Sumatera Utara | 16.250 | 17.450 | 17.750 | - |
Prov. Sumatera Barat | 16.250 | 17.450 | 17.750 | - |
Prov. Riau | 16.600 | 17.800 | 18.100 | - |
Prov. Kepulauan Riau | 16.600 | 17.800 | 18.100 | - |
Kodya Batam (FTZ) | 16.600 | 17.800 | 18.100 | - |
Prov. Jambi | 16.250 | 17.450 | 17.750 | - |
Prov. Bengkulu | 16.600 | 17.800 | 18.100 | - |
Prov. Sumatera Selatan | 16.250 | 17.450 | 17.750 | - |
Prov. Bangka-Belitung | 16.250 | 17.450 | 17.750 | - |
