Harga Minyak Turun 1% Usai Pasokan Arab Saudi Kembali Meningkat

Harga minyak turun, Selasa (22/9), seiring meningkatnya aliran minyak mentah Arab Saudi usai pipa East-West kembali beroperasi dan aktivitas kapal di Selat Hormuz mulai meningkat.
Sebelum perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November ditutup di level USD 99,25 per barel, turun USD 1,09 atau 1,09 persen. Sementara itu, kontrak WTI untuk pengiriman Oktober yang berakhir pada Selasa ditutup di level USD 94,99 per barel, turun USD 1,19 atau 1,24 persen.
Harga minyak Brent dan minyak mentah AS memangkas penurunan tajam pada hari itu setelah Presiden AS Donald Trump memupus harapan bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai. Trump mengatakan kesepakatan damai baru akan tercapai setelah pemilihan paruh waktu AS yang digelar pada awal November.
Trump juga menyatakan tanpa kesepakatan damai, AS dapat “memusnahkan” Iran. Presiden AS itu diperkirakan bertemu dengan para pemimpin dunia dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini.
Rencana pertemuan tersebut sebelumnya memicu harapan akan terciptanya stabilitas di Timur Tengah dan bahkan kemungkinan kemajuan dalam mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama 4,5 tahun.
Pada level terendah perdagangan, kedua acuan harga minyak tersebut sempat turun lebih dari USD 2 per barel. Namun, komentar Trump kemudian memupus harapan yang sebelumnya meningkat bahwa kesepakatan dapat tercapai dalam pertemuan Sidang Umum PBB pekan ini di New York.
Optimisme pasar sebelumnya turut didorong oleh peningkatan aliran minyak melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
“Arab Saudi bertindak, bukan menunggu,” kata analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn.
Kata Flynn, setelah serangan Houthi terhadap pipa East-West memaksa penghentian aktivitas pemuatan di Yanbu, Aramco memuat sekitar 14 juta barel minyak mentah ke tujuh kapal tanker VLCC di dalam Teluk.
“Data satelit dan pelacak menunjukkan bahwa aliran minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz rata-rata mencapai sekitar 2,9 juta barel per hari dalam enam hari terakhir, naik dari sekitar 700.000 barel per hari pada Agustus,” lanjutnya.
Menurut tiga sumber yang mengetahui persoalan ini, Arab Saudi juga telah kembali mengoperasikan pipa East-West dan berpotensi melanjutkan ekspor dari pelabuhan Yanbu pada Selasa (22/9).
Seorang senior Iran kepada Reuters mengatakan Iran dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Katanya, delegasi Iran yang menghadiri Sidang Umum PBB di New York memiliki kewenangan penuh untuk menghidupkan kembali diplomasi dengan AS.
Sementara ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain mengatakan pernyataan Iran menjadi tanda bahwa upaya diplomasi kemungkinan mulai membuahkan hasil.
Sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
“Masih ada hambatan lain, seperti persoalan tarif dan biaya, yang perlu diselesaikan sebelum solusi yang bertahan lama dapat tercapai,” tambah Hussain.
Serangan pesawat nirawak memaksa Arab Saudi menutup pipa tersebut pada 13 September, sehingga menghentikan aktivitas pemuatan minyak mentah di Yanbu.
Kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan dirinya tidak melihat banyak ruang bagi harga minyak untuk kembali turun hingga pasokan melalui Selat Hormuz meningkat, terutama untuk produk olahan minyak karena kelangkaan paling parah terjadi pada komoditas tersebut.
Harga diesel di Eropa dan AS melonjak ke level tertinggi sepanjang masa karena perang di Iran dan Ukraina memangkas ekspor dari sejumlah produsen terbesar, seperti Rusia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
