Harga Nikel Dunia Pulih Usai Indonesia Berencana Pangkas Produksi pada 2026
·waktu baca 2 menit

Harga nikel menguat hari ketiga berturut-turut, pulih dari level terendah selama delapan bulan. Penyebabnya karena berkurangnya prospek pasokan dari Indonesia, produsen utama nikel global.
Dikutip dari Bloomberg, harga mineral tersebut naik hingga 1,5 persen pada Jumat (19/12), dua hari setelah Indonesia mengusulkan pengurangan produksi bijih nikel pada tahun 2026. Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) produksi nikel pada 2026 sekitar 250 juta ton, turun dari target tahun ini sebesar 379 juta ton.
Pengurangan yang direncanakan merupakan respons terhadap penurunan harga nikel. Logam yang digunakan dalam baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik ini turun lebih dari 3 persen tahun ini, merupakan satu-satunya logam industri di London Metal Exchange (LME) yang berada di jalur penurunan tahunan.
Selain Indonesia, China juga telah meningkatkan produksi pada tingkat yang melampaui permintaan global. Analis di Shuohe Asset Management Co. China, Gao Yin, mengatakan rencana Indonesia tersebut berisiko bagi investor yang bersikap pesimis pada saat harga nikel telah anjlok hingga mendekati biaya produksi.
"Keluarnya investor dari perdagangan arbitrase yang melibatkan logam dasar seperti tembaga dan aluminium mungkin juga berkontribusi pada kenaikan minggu ini," jelasnya.
Selain usulan pengurangan penambangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana merevisi formula penetapan harga acuan untuk bijih nikel pada awal tahun 2026, sebuah langkah yang akan mengklasifikasikan produk sampingan seperti kobalt sebagai komoditas terpisah yang dikenakan royalti.
Sebagian besar logam industri mengalami kenaikan tahun ini. Tembaga telah naik sekitar sepertiga, mencapai rekor USD 11.952 per ton minggu lalu, karena permintaan global yang kuat untuk logam yang sangat penting bagi transisi hijau.
Harga nikel naik 1,5 persen menjadi USD 14.855 per ton di LME pada pukul 11:10 pagi di Shanghai. Harga nikel telah naik lebih dari 4 persen sejak ditutup pada USD 14.263 pada Selasa, level terendah sejak 9 April. Tembaga turun 0,4 persen menjadi USD 11.732 dan aluminium sedikit turun 0,1 persen menjadi USD 2.914.
