Kumparan Logo

Harga Plastik Naik, RI Impor dari China-Korea Selatan USD 873,2 Juta

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kantong plastik. Foto: Yung Chi Wai Derek/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kantong plastik. Foto: Yung Chi Wai Derek/Shutterstock

Harga plastik mengalami kenaikan karena pasokan bahan baku terganggu imbas perang di Iran. Kenaikan harga juga terjadi karena 6 Indonesia mengimpor bahan baku plastik hingga 60 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengimpor plastik dan bahan plastik senilai USD 873,2 juta pada Februari 2026.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan plastik dan bahan plastik menjadi komoditas impor nonmigas yang memberikan andil defisit terbesar pada neraca perdagangan Januari-Februari 2026, yakni sebesar USD 1,39 miliar.

"Impor plastik dan barang dari plastik atau HS 39 pada bulan Februari 2026 ini mencapai USD 873,2 juta," ungkap Ateng saat konferensi pers, Rabu (1/4).

Impor komoditas tersebut, lanjut dia, berasal dari China sebesar USD 380,1 juta, dari Thailand sebanyak USD 82,7 juta, dan juga dari Korea Selatan sebesar USD 66,7 juta.

Ateng juga menjelaskan, sepanjang Februari 2026, komoditas impor terbesar yakni mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) senilai USD 3,74 miliar, kemudian mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar USD 2,74 miliar, serta plastik dan barang dari plastik senilai USD 0,87 miliar.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, khususnya naphta, dari kawasan Timur Tengah.

“Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah naphta. Naphta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor KSP, Istana, Jakarta, Rabu (1/4).

Ilustrasi kantong plastik. Foto: Natali Ximich/Shutterstock

Tak hanya Indonesia, gangguan ini juga dirasakan oleh sejumlah negara lain di Asia. Budi menyebut beberapa produsen di Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, hingga Thailand mengalami kondisi force majeure. “Sehingga yang kita impor plastik pun juga sedikit terganggu,” jelasnya.

Budi mengatakan Indonesia kini mulai menjajaki sumber baru dari berbagai negara dan mencari alternatif pasokan bahan baku plastik menyusul terganggunya impor dari Timur Tengah. Meski begitu, ia mengakui proses peralihan pasokan tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan penyesuaian rantai distribusi.

“Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika,” kata Budi.

instagram embed