Harga Referensi CPO Turun Jadi USD 1.029,51 per Metrik Ton
·waktu baca 3 menit

Harga Referensi (HR) minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang digunakan sebagai dasar pengenaan Bea Keluar (BK) dan Pungutan Ekspor (PE) ditetapkan sebesar USD 1.029,51 per metrik ton (MT) untuk periode 1 hingga 30 Juni 2026.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menyatakan angka tersebut lebih rendah USD 20,07 atau turun 1,91 persen dibandingkan HR CPO yang tercatat sebesar USD 1.049,58 per MT pada periode 1 hingga 31 Mei 2026.
“HR CPO periode Juni 2026 turun dibandingkan periode Mei 2026 akibat penurunan permintaan dari negara importir utama seperti India. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang berlaku, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar USD 148 per MT dan PE CPO sebesar 12,5 persen dari HR CPO periode Juni 2026, yaitu sebesar USD 128,6892 per MT untuk periode Juni 2026,” ucap Tommy dalam keterangannya, dikutip Sabtu (30/5).
Penetapan HR CPO dilakukan berdasarkan rata-rata harga selama periode 20 April hingga 19 Mei 2026 yang bersumber dari tiga pasar acuan, yakni Bursa CPO Indonesia sebesar USD 920,80 per MT, Bursa CPO Malaysia sebesar USD 1.138,22 per MT, dan harga CPO di Pelabuhan Rotterdam sebesar USD 1.429,40 per MT.
Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 35 Tahun 2025 menyatakan apabila selisih rata-rata harga dari tiga sumber tersebut melebihi USD 40, maka perhitungan HR CPO menggunakan rata-rata dari dua sumber harga yang berada di posisi median dan paling dekat dengan median.
Berdasarkan ketentuan tersebut, perhitungan HR CPO periode Juni 2026 menggunakan harga dari Bursa CPO Malaysia dan Bursa CPO Indonesia, sehingga ditetapkan sebesar USD 1.029,51 per MT.
Untuk produk minyak goreng berupa Refined, Bleached, and Deodorized (RBD) palm olein dalam kemasan bermerek dengan berat bersih maksimal 25 kilogram, pemerintah menetapkan Bea Keluar sebesar USD 33 per MT.
Sementara itu, HR biji kakao untuk periode Juni 2026 ditetapkan sebesar USD 3.832,17 per MT, meningkat USD 563,48 atau 17,24 persen dibandingkan periode sebelumnya. Seiring kenaikan tersebut, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Juni 2026 juga naik menjadi USD 3.511 per MT, atau bertambah USD 549 setara 18,53 persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar. Selain itu, penurunan suplai dari Nigeria ikut mendorong kenaikan HR dan HPE biji kakao,” tutur Tommy.
Kemudian tarif Bea Keluar (BK) biji kakao ditetapkan sebesar 7,5 persen periode Juni 2026. Sementara itu, besaran Pungutan Ekspor (PE) biji kakao juga ditetapkan sebesar 7,5 persen.
HPE Produk Kulit Tidak Mengalami Perubahan
Di sisi lain, HPE produk kulit tidak mengalami perubahan untuk periode Juni 2026. HPE untuk keping kayu, kayu olahan dengan luas penampang 1.000 hingga 4.000 mm² dari hutan tanaman jenis sungkai, serta kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000 hingga 10.000 mm² juga tetap sama.
Di sisi lain, HPE getah pinus naik menjadi USD 980 per MT atau meningkat USD 64 atau 6,99 persen dibandingkan periode Mei 2026.
Kenaikan juga terjadi pada HPE kayu veneer yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman, serta sejumlah produk kayu olahan dengan luas penampang 1.000 hingga 4.000 mm² dari jenis meranti, merbau, rimba campuran, eboni, serta berbagai jenis kayu hutan tanaman seperti akasia, sengon, balsa, eukaliptus, dan lainnya.
Sementara itu, penurunan HPE tercatat pada kayu lapis untuk kotak kemasan, kayu keping atau pecahan, serta kayu olahan dengan luas penampang 1.000 hingga 4.000 mm² dari jenis jati dan beberapa jenis kayu hutan tanaman, seperti pinus, gmelina, dan karet.
