Harga Sapi Australia & Biaya Pakan Naik Jadi Penyebab Daging Sapi Mahal
·waktu baca 3 menit

Harga daging sapi Indonesia mengalami kenaikan. Berdasarkan data Info Pangan Jakarta, harga daging sapi hari ini terpantau tembus Rp 160 ribu per kg di Pasar Kebayoran Lama. Normalnya, harga daging sapi yang dijual konsumen Rp 120 ribu per kg.
Menurut sumber kumparan, salah satu manajer tempat penggemukan (feedlot) sapi di kawasan Jabodetabek, mengatakan penyebab harga daging sapi naik saat ini karena harga sapi bakalan dari Australia naik drastis. Indonesia sendiri merupakan negara pengimpor sapi dari Negeri Kanguru.
Harga sapi bakalan dari Australia sebelumnya UAD 3,7, kini menyentuh UAD 4,5 per kg bobot hidup yang dikirim ke Jakarta. Biaya itu termasuk asuransi hewan di dalam kapal sampai ke Pelabuhan Tanjung Priok.
"Kenaikan ini disebabkan infonya Australia kehabisan stok sapi. Mereka lagi melakukan re-stocking sapinya di Australia," katanya, Kamis (24/2).
Dengan meningkatkan harga beli sapi bakalan per kg bobot hidup, otomatis harga sampai di kandang peternak juga naik. Menurut hitungannya, menyentuh Rp 66.000 per kg bobot hidup. Padahal, normalnya Rp 48.000 hingga Rp 51.000 per kg bobot hidup
"Pengusaha feedlot mau tidak mau harus menaikkan harga jual mereka untuk mengantisipasi kekosongan stok sapi di kandang," lanjutnya.
Menurutnya, kenaikan biaya sapi per kg bobot hidup bukan hanya di Jakarta, tapi kompak di berbagai daerah mulai dari Jawa Barat, Banten, Lampung, hingga Sumatera Utara.
Kondisi ini, kata dia, membuat harga daging sapi yang sampai di konsumen jadi mahal. Karena setelah sampai di feedlot, sapi dibawa ke Rumah Potong Hewan (RPH). Di sinilah, kata dia, ada permainan bandar sampai ke pedagang di pasar.
Biaya Pakan Sapi Bakalan Juga Naik
Selain harga sapi bakalan dari Australia yang naik, biaya pakan untuk perawatan sapi setibanya di Indonesia juga naik agar sapi gemuk. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Juan Permata Adoe, mengatakan biaya operasional feedlot untuk pembelian pakan ini juga mengalami kenaikan.
Juan mengatakan, saat ini harga sumber pakan lokal tradisional seperti limbah tapioka, bungkil kopra, dan banyak komoditas lainnya meningkat karena peningkatan teknologi ekstraksi. Belum lagi, pakan tersebut juga diekspor. Kondisi ini, kata Juan, membuat perusahaan feedlot merugi.
“Ditambah permintaan domestik yang berkurang disebabkan oleh pandemi dan menjadikan importir dihantam dari segala arah. Meskipun harus menanggung kerugian ini, lebih dari 41.000 ekor sapi bakalan yang diekspor dari Australia pada bulan Desember dan 9.424 lainnya selama bulan Januari,” kata Juan kepada kumparan.
Meski begitu, Juan menjelaskan ada alasan yang mendorong importir untuk tetap berdagang walau rugi. Menurutnya, keyakinan para importir adalah harga sapi bakalan Australia akan turun secara tiba-tiba dan memungkinkan bisnis untuk kembali.
