Harga Telur Ayam Terus Merangkak Naik, Peternak Jelaskan Penyebabnya
·waktu baca 3 menit

Menjelang Natal dan Tahun Baru 2022, harga telur ayam terpantau meningkat drastis. Saat ini sudah menembus angka Rp30.000-Rp 31.000 per kilogram (kg). Kondisi ini terjadi setelah harga telur ayam sempat anjlok dalam kurun waktu September-Oktober 2021.
Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Musbar Mesdi, menjelaskan naiknya harga telur ayam saat ini sangat berkaitan dengan kondisi anjloknya telur ayam. Hal itu disebabkan biaya produksi sangat tinggi disertai permintaan pasar yang rendah karena adanya PPKM level 3-4.
"Waktu penerapan PPKM Level 3-4, kunjungan wisata turun, kegiatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga turun. Ini menyebabkan harga telur ambruk, harga ayam ambruk," ujar Musbar kepada kumparan, Sabtu (25/12).
Musbar menuturkan, sudah hampir setahun ini harga telur ayam di bawah harga pokok produksi (HPP), yaitu Rp 14.000-Rp 15.000 per kilogram. Sedangkan, biaya produksi yang sangat dipengaruhi oleh biaya pakan tersebut mencapai Rp 24.000 per kilogram.
"Peternak kan enggak kuat beli pakan. Bayangkan dari Rp 24.000 ke Rp 14.000 selisih berapa, kerugian per kilogramnya Rp 9.000-10.000," lanjut dia.
Imbas dari besarnya kerugian tersebut, para peternak pun akhirnya terpaksa menjual ayam petelur atau meng-afkir ayamnya. Dia mengungkapkan, sebanyak 40 persen ayam petelur saat itu diafkir. Hal ini pun berdampak pada kurangnya supply di saat ekonomi mulai pulih.
"Begitu PPKM level 3-4 dilepaskan, otomatis aktivitas bergerak kembali. Serapan di pasar mulai meningkat mendekati tahun baru. Pada saat serapan naik, supply kurang karena ayam diafkir 40 persen. Pemulihan populasi ini sesudah diafkir 40 persen butuh waktu 4-5 bulan ke depan," jelas Musbar.
Kendati demikian, Musbar yakin kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Hal tersebut sangat berkaitan dengan income per kapita masyarakat yang memengaruhi daya beli pangan. Jika perekonomian mulai pulih, maka masyarakat bisa meningkatkan konsumsinya.
"Saya rasa efeknya hanya sementara saja. Saya yakin Januari sudah kembali normal sesuai HPP. Ini terkait kepada income per kapita, kalau income per kapita bagus, ya konsumsi per kapita untuk bahan pangan pokok meningkat," imbuh dia.
Dia mengharapkan komitmen pemerintah untuk menyediakan solusi bagi peternak, salah satunya dengan menurunkan harga jagung yang menjadi mayoritas bahan untuk pakan ayam.
"Harga jagung masih Rp 6.000 saat ini, padahal komponen biaya pakan itu 70 persen dari biaya produksi semua. Harga pakan ayam menyentuh hampir Rp 7.000. Kita sudah kasih early warning sama pemerintah pada saat Juli, Agustus, September, Oktober, akhirnya terjadi seperti ini," tegas Musbar.
Adapun rata-rata harga telur ayam di pasar tradisional seluruh Indonesia per 16 Desember 2021, dilansir dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), mencapai Rp 26.200 per kilogram.
Sedangkan Info Pangan Jakarta, harga telur ayam ras rata-rata di Jakarta hari ini, Sabtu (25/12), sudah mencapai Rp 30.457 per kilogram. Bahkan harga tertinggi mencapai Rp 33.000 per kg di Pasar Paseban.
