Kumparan Logo

Hary Tanoesoedibjo Banting Setir Ubah IATA Jadi Bisnis Batu Bara, Ini Alasannya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Executive Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Executive Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengungkapkan alasannya memilih ekspansi bisnis ke tambang batu bara. Ekspansi itu dilakukan dengan mengubah nama PT Indonesia Transport dan Infrastructure Tbk atau IATA menjadi PT MNC Energy Investments Tbk.

Hary Tanoe mengatakan, bisnis yang dijalankan IATA sebelumnya yaitu pengangkutan udara niaga dan jasa angkutan udara semakin sulit berkembang, khususnya di tambah adanya pandemi COVID-19.

“Jadi air transport dan transportasi secara umum kan susah, belum COVID saja tidak gampang, ditambah lagi COVID, penumpangnya makin sedikit, lebih sedikit,” kata Hary Tanoe saat konferensi pers secara virtual, Kamis (10/2).

Ia mengungkapkan IATA dengan bisnisnya tersebut selalu merugi sejak tahun 2008. IATA sebenarnya mencatatkan pendapatan usaha sebesar USD 7,2 juta di bulan September 2021 atau naik 15 persen dibanding USD 6,3 juta pada bulan September 2020.

Akan tetapi, kenaikan tersebut diikuti dengan kenaikan berbagai beban usaha yang menghasilkan rugi bersih sebesar USD 4,7 juta untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2021 atau naik 118 persen dibanding rugi bersih pada periode yang sama tahun sebelumya sebesar USD 2,1 juta.

“Secara konsisten 2008 sampai 2021 rugi, tiap tahun rugi, makanya diambil satu sikap bagaimana meng-turn around perusahaan untuk menjadi perusahaan yang solid, apalagi ini Tbk yang tentunya baik bagi para pemegang saham,” ujar Hary Tanoe.

Selain itu, Hary Tanoe merasa sektor energi termasuk batu bara saat ini sedang moncer. Sehingga ia memastikan langkah yang diambil dengan mengubah bisnis IATA ke batu bara sudah menjadi pilihan yang tepat.

“Jadi batu bara ini mulai tahun lalu khususnya semester II sampai hari ini dan mudah-mudahan seterusnya ini memasuki masa emasnya, harganya luar biasa bagusnya. Mungkin yang belum pernah terjadi dalam sejarah batu bara selama ini,” ungkap Hary Tanoe.

Lebih lanjut, Hary Tanoe menuturkan Indonesia menjadi salah satu negara penghasil batu bara terbesar. Ekspor batu bara juga menjanjikan. Ia menganggap bisnis batu bara bakal terus bagus.

“Itulah kenapa diputuskan secara cepat untuk mengubah arah bisnis dari IATA yang tadinya air transport menjadi tentunya perusahaan batu bara. Jadi sangat rasional alasannya kenapa banting setir tujuan akhirnya ya menjadikan IATA perusahaan yang baik, solid, berkembang, dan baik untuk pemegang saham semua,” tutur Hary Tanoe.

Prospek Menjanjikan Batu Bara.

Berdasarkan keterangan yang dibagikan setelah RUPSLB IATA, sepanjang 2021 harga batu bara global terus merangkak naik. Bahkan memasuki semester kedua hingga menjelang akhir tahun, harga mineral ini melesat tinggi hingga menyentuh harga tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan dipengaruhi berbagai aspek, terutama untuk memenuhi kebutuhan energi yang disebabkan oleh pembukaan kembali ekonomi pasca pandemi. Berbagai persoalan seperti gangguan pasokan dan konflik antar negara, ditambah dengan permintaan untuk menyambut musim dingin, serta banjir di provinsi Shanxi, pusat penambangan batu bara terbesar di China.

Tahun 2022, harga batu bara diprediksi akan terus melejit dampak permintaan yang tinggi dan pasokan yang terus menyusut. Kenaikan ini tentunya turut mendongkrak harga batubara nasional.

Mengutip data International Energy Agency (IEA), Indonesia mengekspor sebanyak 455 juta ton batu bara ke seluruh dunia pada 2019, dan bergerak menjadi 400 juta ton pada 2020 imbas pandemi COVID-19. Posisi tersebut menunjukkan Indonesia sebagai negara eksportir batu bara yang mendominasi di pasar global.

Sedangkan China, menempati posisi teratas negara importir batu bara di dunia. Hubungan yang memburuk antara China dengan Australia membuat Indonesia kini jadi pemasok batu bara utama, di mana impor batu bara China dari Indonesia naik 60 persen sejak akhir November 2021, menurut data Bea Cukai China. Dapat disimpulkan bahwa sepanjang batu bara masih menjadi sumber utama pembangkit listrik di berbagai negara, batu bara Indonesia akan terus menjadi primadona dunia.