Helikopter Terbang Rendah di Tol, BPJT: Rescue Udara Jadi Model Penyelamatan
·waktu baca 2 menit

Helikopter terbang rendah di ruas jalan Tol Jagorawi. Suaranya menderu-deru membayangi mobil yang berseliweran di ruas jalan tol pertama di Indonesia itu.
Tak hanya di Jagorawi, helikopter juga terbang di atas Tol Layang MBZ di ruas Tol Jakarta-Cikampek, lalu mendarat dan menyimulasikan evakuasi korban kecelakaan lalu lintas. Proses evakuasi darat dilakukan petugas gabungan Jasa Marga.
Sementara penjemputan korban dilakukan Basarnas menggunakan helikopter untuk selanjutnya membawa korban yang membutuhkan penanganan darurat ke RS Yarsi dan RS Polri.
Menanggapi simulasi penyelamatan kecelakaan itu, Badan Pengatur Jalan Tol atau BPJT Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), berharap rescue udara menggunakan helikopter dapat menjadi model untuk diterapkan di jalan-jalan tol lainnya.
"Ke depannya kegiatan ini dapat menjadi model untuk diterapkan di jalan tol lainnya,” ujar Kepala BPJT Danang Parikesit, Senin (10/5).
Kegiatan simulasi tersebut diadakan di Jalan Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed (MBZ) Km 40B dan Jalan Tol Jagorawi Km 19B. Selanjutnya Danang menambahkan bahwa pihaknya sepakat bahwa fokus semua instansi adalah mengurangi tingkat fatalitas kecelakaan.
Tidak hanya dari jumlah kecelakaan yang turun, yang juga penting bagi kami adalah jumlah korban meninggal sedapat mungkin juga ditekan hingga mencapai angka nol.
"Fokus kita adalah mengurangi tingkat fatalitas. Di tahun 2019 angkanya 0,12, turun menjadi 0,109 di tahun 2020 dan target selanjutnya menjadi nol di tahun 2024," katanya.
Sementara itu dalam simulasi penanganan kecelakaan Jasa Marga dan BASARNAS tersebut dilakukan secara berkesinambungan, dimulai dari laporan pengguna jalan, koordinasi petugas-petugas terkait, baik itu petugas di Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC) maupun petugas di lapangan.
Evakuasi korban dilakukan oleh petugas gabungan Jasa Marga yang terdiri dari Mobile Customer Service, Rescue, Ambulans hingga Derek. Simulasi menitikberatkan pada evakuasi kecelakaan dengan korban luka berat yang berada di lokasi yang sulit dijangkau serta dibutuhkan penanganan dengan cepat.
Melihat hal tersebut, Petugas JMTC yang mendapatkan laporan penanganan di lapangan meneruskan permohonan bantuan rescue udara kepada BASARNAS. Selang beberapa waktu kemudian, BASARNAS melakukan penjemputan korban dengan menggunakan helikopter untuk selanjutnya membawa korban yang membutuhkan penanganan darurat ke RS Yarsi dan RS POLRI.
