Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Hidup Bebas atau Aman Finansial? Gen Z di Persimpangan Keputusan
30 Maret 2025 14:44 WIB
·
waktu baca 7 menit
ADVERTISEMENT
Sebagai anak 2001, Ais adalah salah satu Gen Z yang seringkali dilema dalam mengontrol keuangan. Ia dihadapkan dengan pilihan pakai uang untuk nikmati hidup saat ini atau simpan supaya cepat berada di posisi ‘Financial Freedom’.
ADVERTISEMENT
Terlebih lagi dilema itu muncul ketika harus membiayai hobinya untuk mendapat kebebasan stress dengan cara mendengarkan musik. Seringkali uang yang Ia punya dipakai untuk membeli tiket-tiket konser. Sebagai penggemar setia, perempuan asal Tangerang ini tak mau melewatkan satu konser pun.
“Kayaknya ya aku selalu berpikir yaudah uang bisa cari lagi, nonton konser kapan lagi? Padahal sudah sering juga nonton konser band kesukaan,” cerita Ais pada kumparan.
Dalam satu kali konser, ia perlu merogoh uang Rp 200.000 sampai Rp 2 juta. Tahun lalu ia bercerita telah menghadiri 15 konser dengan total pengeluaran lebih dari Rp 10 juta. Selain menonton konser, Ais juga hobi naik gunung. Sebagai anak gunung, Ia juga perlu merogoh Rp 500.000-700.000 sekali perjalanan.
ADVERTISEMENT
Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Ais mengaku belum bisa meninggalkan hobi dan gaya hidup ini. Jika, Ia harus melepaskan hobi-hobi tersebut, itu nanti saat sudah meninggal.
“Nggak bisa, bisa stress. Bisa, kalau aku sudah mati nanti” ungkapnya sambil tertawa.
Pola hidup Ais awam dikenal sebagai konsep ‘YOLO’ atau You Only Live at Once. Menariknya, frasa itu sudah ada setidaknya sejak akhir abad ke-19. Namun, frasa "YOLO" baru menjadi ungkapan yang populer setelah lagu Drake. Istilah ini kemudian menjadi meme dan banyak digunakan untuk menggambarkan hidup di saat ini atau mengambil risiko karena masa depan tidak pasti.
Fenomena yang dialami Ais ini bukan kasus tunggal. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil survei IPSOS tahun 2024 yang menjelaskan 61 persen dari jumlah responden mereka menganut mentalitas YOLO.
ADVERTISEMENT
IPSOS merupakan lembaga riset market asal Prancis yang dalam penelitian ini mereka melakukan wawancara kepada 50.237 orang yang mewakili tiga perempat populasi dunia.
Sedangkan dalam satu dekade terakhir, sejak survei ini dilakukan terjadi peningkatan orang yang menganut YOLO yaitu dari 50 persen menjadi 61 persen. Faktor rendahnya kepercayaan pada pemerintah dan otoritas untuk memperbaiki masa depan memicu peningkatan mentalitas ini.
Walaupun demikian, Indonesia masih termasuk negara paling bawah yang rakyatnya hidup dalam pola pikir YOLO. Dalam data tersebut hanya 40 persen dari total responden di Indonesia yang mengikuti konsep YOLO, angka tersebut di bawah rata-rata global yaitu 64 persen.
Sisi Lain YOLO
Ais memang mengakui bahwa dia hidup dengan konsep YOLO. Akan tetapi, dia masih memiliki kemauan untuk berada di posisi ekonomi stabil. Oleh maka dari itu Ia memberanikan diri untuk melakukan investasi saham.
ADVERTISEMENT
Perlu diketahui bahwa saham adalah salah satu produk investasi yang memiliki risiko dan kompleksitas tinggi. Aspek tersebut nyatanya tak menakuti Ais dalam memulai investasi saham.
“Awalnya Iseng aja dan aku nggak takut. YOLO aja,” ungkapnya.
Menurut Financial Planner, Mike Rini, fenomena YOLO memang seringkali membawa seseorang untuk melakukan pengeluaran berlebihan. Akan tetapi di satu sisi konsep YOLO mendorong Gen Z untuk berani berinvestasi guna mencapai kondisi hidup sejahtera .
“Fenomena ini sering kali menyebabkan tekanan sosial yang mengarah pada pengeluaran berlebihan. Namun, jika dilihat dari sisi positif, konsep YOLO dapat digunakan untuk mendorong anak muda untuk berinvestasi. Misalnya, dengan menyadari bahwa hidup hanya sekali, mereka dapat lebih termotivasi untuk menabung dan berinvestasi agar masa depan mereka lebih sejahtera,” jelas Rini kepada kumparan.
ADVERTISEMENT
Mike menjelaskan bahwa meski YOLO masih dianut banyak orang, keinginan untuk mencapai kebebasan finansial juga terus meningkat. Hal tersebut dibuktikan dengan survei Bank Indonesia pada tahun 2022, sekitar 70% anak muda berusia 18-30 tahun menyatakan bahwa mereka sangat peduli terhadap pengelolaan keuangan dan ingin memiliki kebebasan finansial di masa depan.
“Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan semakin meningkat di kalangan generasi muda,” tutur Mike.
“Terdapat peningkatan dalam keinginan anak muda untuk mencapai financial freedom atau financial independen,” ia menambahkan.
Perjalanan menuju kebebasan finansial tidaklah mudah, anak muda saat ini menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, mulai dari aspek psikologis, sosial, hingga literasi keuangan. Tentu tantangan tersebut membuat Gen Z kesulitan dalam mengatur keuangan.
ADVERTISEMENT
Indonesia sendiri masih memiliki skor literasi keuangan yang rendah. Skor yang dikeluarkan oleh OECD tahun 2023 berguna untuk mengukur kemampuan seseorang dalam merencanakan, menganggarkan, memeriksa, mengelola, mengendalikan dan menyimpan dana keuangan sehari-hari.
Dalam data survei OECD tahun 2023, skor literasi keuangan Indonesia berada di angka 57. Masih di bawah rata-rata negara OECD yaitu 63.
Sementara itu. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan hasil indeks literasi keuangan paling rendah dialami generasi muda usia 15-17 tahun, dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024.
Kelompok 26-35 tahun, 36-50 tahun, dan 18-25 tahun memiliki indeks literasi keuangan komposit tertinggi yaitu masing-masing sebesar 74,82 persen, 71,72 persen, dan 70,19 persen.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya kita bisa lihat di sini untuk kelompok umur 15-17 dan juga 51-79 memiliki komposit terendah yaitu sebesar 51,70 persen dan 52,51 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan anak-anak muda alias Generasi Z paling berisiko mengalami masalah keuangan karena minim literasi keuangan, namun memiliki literasi digital yang sangat tinggi sehingga mudah mengakses layanan keuangan digital.
"Ini juga concern kami, mereka itu lebih bahaya secara digital mereka sangat literate, jempolnya canggih kemana-mana, tapi financially mereka belum literate, ini bahayanya karena mereka sangat mudah mengakses tapi mereka tidak paham," jelasnya.
Lalu Bagaimana Saya Mencapai ‘Financial Freedom’?
Dalam jurnal berjudul “Younger people in the US are more likely to experience their personal finances as anxiety- or stress-provoking” Gen Z akhirnya menggunakan teknologi untuk membantu mengelola keuangan pribadi. Ketersediaan alat perencanaan keuangan digital dapat membantu membentuk kebiasaan menabung dan berinvestasi sejak awal karier seseorang, serta meningkatkan kemungkinan akumulasi kekayaan atau tabungan pensiun. Alat itu dapat kamu dapatkan dari fitur 360 Digital Wealth melalui aplikasi M2U ID milik PT Maybank Indonesia Tbk.
ADVERTISEMENT
Head Digital Banking Maybank Indonesia, Charles Budiman menjelaskan bahwa fitur ini dapat membantu nasabah untuk mengatur keuangan hingga mengelola investasi. Fitur ini bahkan dapat membantu kamu untuk mencapai ‘financial freedom’ dengan terarah, terukur, dan termudah dalam mencapai kondisi keuangan ideal kamu.
Kamu bisa memulai dengan menentukan jangka waktu menabung dan berapa nominal yang harus terkumpul.
“Di M2U, kita bisa langsung masukin (tujuan,nominal, dan jangka) di 360. Saya menabung target 500 juta, tenor dalam 3 tahun sudah dapat. Lalu langsung dikasih panduan oleh M2U,” kata Charles, belum lama ini.
M2U akan memberikan berbagai panduan mengenai produk investasi yang sesuai dengan kebutuhan kamu. Terdapat sederet produk investasi yang bisa dipilih sesuai kepribadianmu. Mulai dari deposito, reksadana, surat berharga negara (SBN), emas hingga bancassurance. Nasabah M2U juga dapat memulai petualangan mencapai ‘Financial Freedom’ dengan modal ramah dompet.
ADVERTISEMENT
Setelah menentukan tiga hal tersebut, fitur 360 akan langsung menyetorkan uang ke instrumen investasi yang kamu pilih. Tak perlu khawatir jika uang akan terpakai untuk keperluan lain, sebab M2U secara otomatis memotong dana untuk investasi atau tabungan sesuai tanggal yang ditentukan.
“Canggihnya lagi, kalau begitu kita setujui, sudah tiap bulan di tanggal yang kita tentukan sendiri, langsung auto debit uangnya, dan dimasukin ke produk-produk itu sendiri semua,” tambah Charles.
Guna mempermudah nasabah mengenali resiko ekonomi dan investasi jangka panjang, ke depannya di 360 Digital Wealth akan ada beberapa fitur tambahan. Seperti total unrealized gain and loss untuk produk-produk wealth seperti mutual funds, bonds dan emas. Lalu untuk goal based investing yang fokus membantu strategi investasi dalam mencapai tujuan seperti membeli rumah, biaya pendidikan, dll dengan cara terencana dan terukur.
ADVERTISEMENT
Sedangkan bagi kaum kaum yang YOLO dan takut cepat habis uang, Maybank akan mengembangkan fitur pengkategorian dan peringatan pengeluaran. Fitur ini dapat mengingatkan kamu jika pengeluaran nasabah melebihi limit yang telah ditentukan secara pribadi.
Pada akhirnya, keseimbangan antara menikmati hidup dan membangun masa depan adalah kunci. Dengan alat yang tepat, seperti M2U Maybank, kebebasan finansial bukan lagi mimpi yang jauh bagi Gen Z.
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%