Kumparan Logo

Himbara Kompak Naikkan Suku Bunga Deposito Valas USD, Ini Daftarnya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta. Foto: Antara/Puspa Perwitasari
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta. Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Himpunan bank milik negara (himbara) kompak menaikkan suku bunga deposito valuta asing (valas) dalam denominasi dolar AS (USD). Kebijakan ini dilakukan untuk menarik lebih banyak dana asing masuk ke Indonesia sekaligus memperkuat likuiditas perbankan di tengah dinamika global.

BRI

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memperkuat daya tarik bagi pemegang simpanan valas USD dengan menaikkan suku bunga deposito menjadi 4 persen per tahun. Langkah ini diharapkan dapat menjadi magnet baru bagi investor ritel maupun institusi, baik domestik maupun internasional, yang tengah mencari instrumen simpanan dengan imbal hasil kompetitif di tengah kondisi pasar global yang masih diliputi ketidakpastian.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan, kebijakan tersebut tidak hanya memberikan alternatif diversifikasi portofolio bagi investor domestik dan asing, tetapi juga mempertegas posisi BRI sebagai bank dengan fundamental kuat dan likuiditas stabil.

“Dengan tingkat bunga yang lebih menarik, BRI membuka peluang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil optimal sembari mengakses stabilitas sistem keuangan Indonesia yang terus berkembang,” jelas Hery dalam keterangan resminya.

Hery melanjutkan, kenaikan bunga deposito valas merupakan respons BRI terhadap dinamika pasar global sekaligus strategi memperluas basis dana valuta asing.

“Peningkatan suku bunga deposito valas ini menjadi salah satu upaya BRI dalam memberikan nilai tambah bagi nasabah, sekaligus memperkuat likuiditas perseroan dalam denominasi mata uang asing,” ujarnya.

BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) juga mengumumkan kenaikan bunga deposito valas yang berlaku mulai 5 November 2025. Untuk deposito yang dibuka sebelum tanggal tersebut, suku bunga tetap mengikuti ketentuan awal hingga jatuh tempo.

BNI menetapkan bunga deposito USD sebesar 4,00 persen per tahun untuk tenor 1, 3, 6, dan 12 bulan. Skema ini berlaku sama di semua strata nominal, mulai dari < USD 100 ribu, USD 100 ribu–<1 juta, USD 1 juta–<10 juta, hingga ≥ USD 10 juta.

Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk turut menyesuaikan bunga deposito valas USD yang berlaku efektif mulai 5 November 2025. Untuk tenor 1, 3, 6, dan 12 bulan, bunga deposito USD Mandiri seragam di angka 4,00 persen per tahun untuk seluruh strata nominal.

Sementara untuk tenor 24 bulan, bunga deposito USD Mandiri bervariasi. Berikut rinciannya:

USD 100 ribu → 0,75 persen (dibayar saat jatuh tempo), 0,66 persen (dibayar di muka)

≥ USD 100 ribu – < 1 juta → 1,25 persen, 1,14 persen

≥ USD 1 juta – < 10 juta → 1,50 persen, 1,38 persen

≥ USD 10 juta → 1,75 persen, 1,61 persen

instagram embed

BTN

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengambil langkah serupa dengan menaikkan bunga deposito valas USD menjadi 4,00 persen per tahun untuk tenor 1, 3, 6, dan 12 bulan di seluruh nominal, baik deposito konvensional maupun e-Deposito.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebut, penyesuaian ini merupakan strategi untuk menarik dana valuta asing ke Indonesia sekaligus memperkuat daya saing produk BTN di kawasan regional.

“Kami ingin memastikan bahwa produk valas BTN tetap kompetitif dan menjadi pilihan menarik bagi nasabah, baik dari dalam maupun luar negeri,” jelas Nixon.

Ia menegaskan, kebijakan ini juga menjadi wujud komitmen BTN menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.

“Dengan bunga valas yang lebih menarik, kami berharap nasabah semakin yakin untuk menempatkan dana USD di dalam negeri. Penempatan tersebut bukan hanya sebagai instrumen investasi aman tapi juga turut memperkuat likuiditas perbankan Indonesia,” tutur Nixon.

BSI

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga menyesuaikan imbal hasil deposito valas dalam denominasi USD dengan nisbah nasabah sebesar 45 persen (dari proyeksi pendapatan yang dibagi hasilkan) atau ekuivalen 4 persen per tahun dan dibagihasilkan berdasarkan realisasi pendapatan Bank.

Penyesuaian imbal hasil deposito valas tersebut diberlakukan untuk jangka waktu 1, 3, 6, dan 12 bulan untuk seluruh nominal simpanan.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menekankan bahwa kebijakan ini sekaligus memperkuat ekosistem keuangan syariah, termasuk layanan haji dan umrah yang membutuhkan transaksi dalam USD.

"Tambahan DPK dalam denominasi dolar AS akan memperkuat likuiditas valas BSI,’’ tegas Anggoro.

Selain itu, BSI juga telah memperluas layanan remitansi dari 14 negara untuk mendukung kebutuhan transaksi global nasabah.