kumparan
18 Juni 2019 11:23

Huawei Diboikot AS, Berapa Pendapatan yang Dibobol?

Ilustrasi ponsel Huawei
Ilustrasi ponsel Huawei. Foto: Reuters/Marko Djurica
Pemboikotan produk Huawei oleh Amerika Serikat (AS) sebagai buntut perang dagang, berdampak buruk terhadap industri teknologi asal China itu, melebihi yang diperkirakan.
ADVERTISEMENT
CEO Huawei Technologies Co Ltd, Ren Shengfei, kepada Reuters mengungkapkan harus memangkas proyeksi pendapatan perusahaannya untuk 2019 ini.
Hal ini mengacu pada dampak pemboikotan yang sudah terjadi sebelumnya. Menurut Ren, pihaknya telah kehilangan pendapatan sebesar USD 30 miliar atau hampir Rp 430 triliun. Ini merupakan pertama kalinya Huawei mengkuantifikasi dampak pemboikotan.
“Huawei tidak menyangka bahwa tekad AS untuk menyerang perusahaan akan begitu kuat dan begitu meresap,” kata Ren, berbicara kepada Reuters di kantor pusat Huawei di Shenzhen, Senin (17/6).
Pemerintahan Presiden Donald Trump telah memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam, dengan alasan keamanan nasional. Alhasil, Huawei dilarang menjual komponen telekomunikasi, tanpa persetujuan khusus dari AS.
Tak hanya pemerintah AS yang memboikot Huawei. Tapi juga sejumlah korporasi, termasuk induk perusahaan Google, Alphabet Inc. Juga desainer chip Inggris, ARM, yang membatasi atau menghentikan sama sekali kerja sama dengan Huawei.
ADVERTISEMENT
Huawei membantah tudingan AS itu. Selama ini, Huawei merupakan produsen komponen telekomunikasi terbesar di dunia dan pembuat smartphone terbesar ke-2 di dunia.
Ilustrasi teknisi Huawei
Ilustrasi teknisi Huawei Foto: AFP/Fred Dufour
"Kami tidak menyangka mereka akan menyerang kami dalam begitu banyak aspek," lanjut Ren, seraya berharap bisnisnya bisa bangkit pada 2021.
"Kami tidak dapat memperoleh pasokan komponen, tidak dapat berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional, tidak dapat bekerja sama dengan banyak universitas, tidak dapat menggunakan apa pun dengan komponen AS, dan bahkan tidak dapat membuat koneksi dengan jaringan yang menggunakan komponen tersebut," tambahnya.
Kenyataan ini membuat pengiriman smartphone Huawei ke pasar dunia, diproyeksi bakal turun sekitar 40 persen hingga 60 persen.
Sepanjang 2018, Huawei meraup pendapatan 721,2 miliar yuan (USD 104 miliar) atau lebih dari Rp 1.500 triliun. Sementara target pendapatannya tahun ini ‘hanya’ sebesar USD 100 miliar, bergantung pada kurs dolar terhadap yuan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan