Hubungan Dagang RI-Vietnam Kian Mesra, Neraca Perdagangan Tembus Rp 217 Triliun

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Ho Chi Minh Vietnam Agustaviano Sofjan memaparkan, hubungan perdagangan antara Indonesia dan Vietnam tumbuh positif dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan neraca perdagangan kedua belah pihak mencapai lebih dari 3 kali lipat.
Sofjan melihat geliat ekonomi antara Indonesia dan Vietnam kian sehat dengan kinerja ekspor dan impor kian tumbuh.
"Tahun 2014 neraca perdagangan Indonesia-Vietnam hanya USD 4 miliar. Namun sekarang di tahun 2022-2023 perdagangan dua arah sudah mencapai USD 14 miliar [sekitar Rp 217,1 triliun dengan kurs BI Jisdor Rp 15.509 per Dolar AS]," kata Sofjan saat ramah-tamah KJRI Ho Chi Minh bersama HIMKI, Selasa (27/8)
Adapun komoditas yang berkontribusi paling besar dari ekspor Indonesia ke Vietnam yakni batu bara, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), otomotif, kemudian komoditas baja.
"Jadi tentu masih banyak ruang untuk sektor lain yang kita juga tahu sedikit Investasinya, juga Investasi dari Indonesia di Vietnam juga tumbuh," kata Sofjan.
Sofjan menyebutkan ada beberapa perusahaan asli Indonesia yang sudah berinvestasi di Vietnam lebih dari 20 tahun seperti PT Japfa Comfeed Indonesia, Ciputra Group, hingga PT Dynaplast Tbk.
Sementara akhir-akhir ini, Sofjan juga mencatat ada investasi baru dari Indonesia yang masuk ke Vietnam, terutama perusahaan rintisan seperti GoJek dan Traveloka. Ke depan, dia meyakini potensi investasi kedua negara semakin terbuka lebar.
"Kita lihat Vietnam juga tumbuh sekarang kita lihat Vietnam investasi di Indonesia seperti Vinfast di nikel. Jadi Indonesia kita tinggal kembangkan baterai kendaraan listrik, dan Vinfast bisa pakai baterai dari Indonesia jadi kita kembangkan ekosistemnya," tandasnya.
Hubungan perdagangan antara Indonesia dan Vietnam berkembang cukup pesat dalam 1 dekade terakhir. Jika digabung, porsi perekonomian kedua negara mencapai 45 persen di kawasan ASEAN.
Sofjan, mengatakan ada banyak potensi kolaborasi antara Indonesia dan Vietnam yang bisa terus dikembangkan. Ia menuturkan, Vietnam dan Indonesia sama-sama memiliki jumlah penduduk jumbo, mencakup 55 persen dari total penduduk ASEAN yakni Vietnam sekitar 100 juta penduduk, sementara Indonesia 280 juta penduduk.
"Jika kita gabungkan ekonomi Vietnam dan Indonesia diperkirakan sekitar 45 persen, jadi itulah mengapa jika Vietnam dan Indonesia bersatu, kita dapat membuat perbedaan bagi ASEAN," ujarnya.
Sofjan menjelaskan, meskipun Vietnam bergabung di ASEAN pada 1995, namun perekonomian negara sosialisme tersebut berkembang sangat pesat.
Berdasarkan data yang dipublikasikan lembaga akuntansi independen Grant Thornton, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam mencapai 5,05 persen pada 2023, dengan laju inflasi 3,25 persen.
Adapun ukuran PDB Vietnam mencapai lebih dari USD 430 miliar pada akhir tahun 2023, menjadikannya yang terbesar ke-35 secara global. PDB per kapita negara yakni sebesar USD 4.284,5.
Vietnam memcatatkan total Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar USD 468,9 miliar dari total 144 negara pada 2023. Sementara neraca perdagangannya surplus sebesar USD 28 miliar dan memiliki 16 Free Trade Agreement (FTA) yang aktif.
Dengan fakta tersebut, Sofjan menilai Vietnam menjadi salah satu tujuan investasi yang sangat menarik di kawasan ASEAN. Hal ini juga, kata dia, berdampak pada hubungan perdagangan dengan Indonesia yang juga moncer.
"Pertumbuhan yang membuat kawasan kita menjadi lebih menarik untuk investasi juga membuat kemakmuran bagi orang Vietnam," jelas Sofjan.
